Minggu, 19 Mei 2013

Empat Kondisi Menjual Sebuah Investasi

  1. Harga telah mencapai Target Harga => Target harga entah itu taknikal apalagi Fundamental adalah sesuatu yang harus anda hormati karena itu bagian dari sistem investasi anda. Jika target harga telah tercapai maka adalah sangat disarankan untuk anda melakukan take profit untuk mengamankan keuntungan yang telah anda dapat sembari melakukan revaluasi kembali apakah ada target harga baru berdasarkan laporan keuangan yang terbaru (Fundamental) Atau akan ada penurunan karena kondisi Fundamental yang memburuk. Jika kemudian ada target harga baru maka jangan sungkan untuk melakukan reentry tentu jika Margin Of Safety (MoS) sesuai. Posisi reentry akan membuat keuntungan anda yang sebelumnya aman dan posisi baru akan memudahkan anda untuk melakukan managemen portofolio dari posisi baru dengan terhindar dari distorsi angka profit di masa lalu.
  2. Ada Tawaran atau potensi yang lebih baik pada saham lain => Pasar saham bergerak sangat dinamis dimana jumlah saham yang diperdagangkan sangat banyak dan khusus di Investa ada 30 saham ++ yang dapat anda pilih berdasarkan kondisi Fundamentalnya. Jika sebuah saham telah beresiko terlalu tinggi atau ada saham lain yang menawarkan potensi lebih besar maka tidak salah anda melakukan switcing dari satu saham ke saham lainnya. Kata-kata investasi bukanlah alasan bagi kita untuk menyimpan sebuah saham selama-lamanya entah hujan atau angin khususnya ketika kita berhadapan pada saham-saham berkarakteristik cyclic stock yang sangat dipengaruhi oleh siklus ekonomi.
  3. Kondisi Fundamental perusahaan yang berubah => Banyak orang yang sering bertanya kepada saya sampai berapa lama mereka harus memegang sebuah saham? Seperti dalam buku Happy Investing maka sebuah saham dapat kita pegang paling lama adalah selama laporan keuangannya mencatatkan peningkatan keuntungan. Kemudian ketika peningkatan keuntungan tidak lagi terjadi maka apakah yang harus kita lakukan? Mudah sekali ... Menjualnya ... tanpa perlu kita cari lagi segala macam alasan untuk membenarkan posisi kita karena sejak awal kita telah menetapkan jika keuntungan menurun maka kita harus menjualnya. Sederhana bukan?
  4. Kondisi Makro Ekonomi yang Tidak mendukung Investasi di pasar saham => Pasar saham bukanlah tempat yang tepat untuk anda melakukan investasi ketika ekonomi sedang berada di masa kesusahan. Sejarah mencatat sudah 6 kali Indonesia mengalami kesusahan besar semenjak pasar saham berdiri dan selama kali itu juga pasar saham tidak pernah bergerak naik ketika masa kesusahan tiba. Jadi jangan melawan trend ini, keluarlah dari pasar saham ketika ekonomi terlihat sakit atau sedang bermasalah. Tidak ada gunanya anda melawan trend besar ini sekalipun anda beritikad menjadi Investor besar. Hanya ketika badai telah berlalulah kita dapat kembali menaman dan tanaman itu bisa berbuah lebat.
sumber milis J-Trader - JV