Jumat, 31 Agustus 2012

List Bacaan


Lima cara berinvestasi seperti Warren Buffett


1. Membeli saham sama dengan membeli bisnis
Jika sebuah bisnis berkinerja bagus, harga sahamnya akan mengikuti.;
Bagaimana mengetahui bisnis yang bagus? Pertama-tama, Anda harus mengerjakan PR, yaitu riset fundamental perusahaan tersebut. Sebab, bagi Buffett, syarat mutlak berinvestasi adalah mengerti bisnisnya dulu. Ia berulang kali menolak berinvestasi di berbagai saham teknologi murah karena mengaku tak kenal bisnisnya. “Risiko datang ketika Anda tidak tahu apa yang Anda lakukan,” tuturnya.
Karena itu, Buffett juga menyarankan untuk memastikan kekuatan manajemen perusahaan itu. Menurut buku ‘The Warren Buffett Way', ia punya tiga pertanyaan menyangkut manajemen sebuah perusahaan. Apakah mereka rasional? Apakah mereka mengakui kesalahan? Apakah mereka bisa menahan tuntutan institusi? Buffett tak suka manajemen yang hanya mengikuti arus dan mengkopi kompetitor.


2. Beli perusahaan yang menguntungkan
Buffett lebih suka berinvestasi pada perusahaan yang membukukan keuntungan dengan konsisten. Artinya, dalam jangka panjang misalnya 10 tahun, perusahaan itu konsisten meraup keuntungan.
Ia pun mengukur tingkat keuntungan perusahaan misalnya dengan melihat return on equity (ROE), return on invested capital (ROIC), dan margin laba perusahaan, lalu membandingkannya dengan perusahaan kompetitor atau industri.
Tapi hati-hati, kadang perusahaan dengan ROE tinggi memiliki utang yang besar pula. Buffett sangat menghindari perusahaan macam ini. Ia pernah bilang, “Jika Anda berada di kapal yang bocor kronis, energi untuk mengganti kapal bakal lebih produktif ketimbang energi untuk menambal kebocoran.”
Catatan:
ROE = laba bersih/ekuitas
Margin laba = laba bersih/penjualan bersih
ROIC = total kewajiban/ekuitas


3. Beli saham bagus di harga murah
Harga adalah apa yang Anda bayarkan, nilai adalah apa yang Anda dapatkan.
Jadi, belilah selalu saham yang harganya lebih murah daripada nilai sebenarnya. Ini prinsip utama Buffett yang ia pelajari dari guru favoritnya, Benjamin Graham. Caranya adalah cermat memperhatikan fluktuasi pasar dan memanfaatkannya. Ketika pasar serakah, Buffett cenderung menahan diri. Tapi sebaliknya, begitu pasar takut, ia mulai menebar jala berburu saham bagus tapi murah. Strategi kontrarian ini mudah diucapkan tapi pada kenyataannya sulit diterapkan. Sebab, lazim terjadi emosi dan kepanikan akan menyergap investor di tengah situasi buruk.


4.Berinvestasi jangka panjang
"Belilah hanya sesuatu yang Anda akan benar-benar senang memegangnya jika pasar tutup selama 10 tahun.
Ketika membeli sebuah saham, Buffett berpatokan akan menyimpannya dalam jangka panjang bahkan seumur hidupnya. Ia menyimpan sejumlah saham yang tak pernah ia jual sampai sekarang seperti Coca-Cola, GEICO, dan Washington Post.

5. Economic moat
Buffett menemukan istilah baru ini, yang secara harafiah berarti parit perlindungan ekonomi. Tapi yang dimaksud Buffett adalah perusahaan yang punya keunggulan kompetitif.  Perusahaan bertipe economic moat dapat melindungi bisnisnya dari kompetitor karena ia punya kelebihan tersendiri.
Kelebihan ini bisa berupa merek yang kuat, paten, atau posisi geografis. Memakai prinsip ini, Buffett membeli McDonalds, Coca Cola, dan P&G.

Kamis, 30 Agustus 2012

Perjalanan Hidup Waren Buffett


30 Agustus 1930
Warren Buffett lahir
Warren Buffett lahir di Omaha, Nebraska, dari pasangan Howard dan Leila. Howard anggota parlemen AS dari Partai Republik dan memiliki perusahaan broker saham. Warren anak kedua dari tiga bersaudara.


17 Oktober 1941
Berkunjung ke Bursa New York di usia 10 tahun
Dalam perjalanan bisnis ke New York City, Howard mengajak puteranya yang baru berusia 10 tahun berkunjung ke New York Stock Exchange. Ia kelak mengatakan, kunjungan ini mengawali ketertarikannya di dunia bisnis.

Kemudian, pada usia 11 tahun, ia membeli enam saham Cities Service Preferred, tiga untuk dirinya, dan tiga lagi ia berikan ke kakaknya.


1947
Jadi loper koran
Ia menjadi loper koran dan berhasil menabung US$ 5.000 dari upahnya. Ayahnya memaksa Buffett kuliah, meski ia enggan. Namun di tahun itu, ia akhirnya terdaftar di Wharton School of Finance and Commerce, Pennsylvania. Buffett tidak menyukainya, sebab ia merasa tahu lebih banyak daripada guru-gurunya. Uang itu ia pakai untuk membeli lahan pertanian yang kemudian disewakan kepada petani. Inilah penghasilan tetap pertama Buffett remaja.


1950
Buffett kuliah
Buffett melamar masuk Harvard Business School namun ditolak. Lalu ia mendaftar ke Columbia setelah tahu bahwa idolanya, Ben Graham and David Dodd, adalah professor di sana.


13 Juni 1951
Jadi dosen
Buffett mengambil kursus public speaking Dale Carnegie. Lalu ia mulai mengajar kelas malam di University of Nebraska untuk mata kuliah "Prinsip Investasi'. Murid-muridnya berusia dua kali lipat usianya yang waktu itu baru 21 tahun.


April 1952
Menikah
Buffett dan Susie menikah. Mereka menyewa apartemen seharga US$ 65 sebulan. Di sana, anak pertama mereka yang juga diberi nama Susie lahir.


1954
Bekerja pada Ben Graham
Ben Graham menelpon Buffett dan menawarinya pekerjaan. Gaji pertama Buffett US$ 12.000 per tahun.


1956
Memulai usaha kemitraan sendiri
Graham pensiun dan menutup usaha kemitraannya. Sejak meninggalkan bangku kuliah enam tahun lalu, tabungan Buffett tumbuh dari US$ 9.800 menjadi US$$ 140.000. Lantas ia kembali ke Omaha, mendirikan usaha kemitraannya sendiri untuk mengelola dana investor. Tujuh anggota keluarga dan teman menjadi peserta dan mempercayakan dana US$ 105.000. Buffett sendiri hanya menginvestasikan US$ 100. Ia menjalankan usaha ini dari kamar tidurnya. Namun, antara tahun 1956-1969 kenaikan investasinya per tahun rata-rata lebih dari 30%. Padahal di masa ini, kenaikan 75-11% sudah tergolong sangat bagus. Buffett makin populer.


1957
Mengembangkan usaha kemitraan
Buffett menambah dua lagi kemitraan dalam pengelolaannya. Ia kini menjalankan 5 kemitraan dari rumah.


1961
Satu juta dollar pertama
Buffett menjalankan 7 kemitraan, di antaranya Buffett Associates, Buffett Fund, Dacee, Emdee, Glenoff, Mo-Buff, dan Underwood. Di bulan April, ia meraup 1 juta dollar untuk pertama kali. Dana itu ia gunakan untuk berinvestasi di Dempster Mill Manufacturing.


1962
Menemukan Berkshire Hathaway
Buffett Partnership yang dulu mulai dengan dana US$ 105.000, kini sudah bernilai US$ 7,2 million. Buffett dan Susie secara pribadi memiliki aset lebih dari US$ 1 juta. Buffett menggabungkan semua kemitraannya menjadi Buffett Partnerships Ltd. Operasionalnya dipindah ke Kiewit Plaza, yang kini menjadi kantor pusat Berkshire Hathaway. Di tahun ini, ia juga menemukan perusahaan manufaktur tekstil Berkshire Hathaway yang dijual dengan harga US$ 7,60 per saham. Buffett mulai membeli saham tersebut.


1963
Menjadi pemegang saham terbesar Berkshire
Buffett menjual Dempster sehingga membukukan untung bersih US$ 2,3 juta. Buffett partnerships menjadi pemegang saham terbesar Berkshire Hathaway.


1964
Skandal American Express
American Express terseret skandal penipuan sehingga sahamnya anjlok. Buffett tahu bahwa saham American Express sudah jatuh ke US$ 35. Saat semua orang panik, Buffett mulai membeli saham itu.


1965
Howard Buffett tutup usia
Sang ayah, Howard, meninggal dunia.Buffett mulai membeli saham Walt Disney Co. setelah bertemu dengan Walt Disney. Buffett mengatur kudeta bisnis untuk menguasai Berkshire Hathaway. Ia lalu memasang Ken Chace untuk mengelola perusahaan itu.


1966
Buffett Partnership tumbuh pesat
Buffett Partnership kini bernilai US$ 44 juta, sedang kekayaan Buffett kini senilai US$ 6,8 juta. Dana kemitraan itu sudah naik 1.156% dibandingkan indeks Dow yang naik 122%.


1967
Untung besar dari saham Amex
Berkshire membagi dividen pertamanya senilai 10 sen. Saham American Express menembus US$ 180 per saham. Alhasil, kemitraan Buffett untung US$ 20 juta. Dana kemitraan itu mencapai US$ 65 juta dan nilai kekayaan bersih Buffett US$ 10 juta. Di tahun ini, Buffett memulai bisnis asuransi dengan membeli asuransi National Indemnity senilai US$ 8,6 juta.


1968
Masa keemasan Buffett Partnership
Buffett Partnership meraup lebih dari US$ 40 juta, sehingga total nilainya mencapai US$ 104 juta. Ini merupakan tahun tersuksesnya.


1969
Menutup Buffett Partnership
Buffett menutup kemitraannya dan melikuidasi aset-asetnya. Namun salah satu yang ia pertahankan adalah Berkshire Hathaway. Saham pribadi Buffett di sana senilai US$ 25 juta.


1970
Memimpin Berkshire Hathaway
Buffett Partnership resmi ditutup. Buffett kini mengantongi 29% saham beredar Berkshire Hathaway. Ia mengangkat dirinya sebagai Chairman dan mulai menulis surat tahunan kepada investornya.


1971
Membeli See's Candies
Buffett menanamkan US$ 25 juta di perusahaan permen See's Candies. Ini menjadi investasi besar pertamanya.


1972
Investasi bisnis asuransi tersendat
Bisnis asuransi Berkshire punya dana menganggur US$ 100 juta. Hanya US$ 17 juta yang diinvestasikan lagi pada obligasi karena waktu itu Buffet tak bisa menemukan saham murah.


1973
Memborong saham Washington Post
Buffett membeli 18.600 saham Washington Post senilai US$ 27 per saham. Ketika saham itu turun ke US$ 23, ia membeli 40.000 saham lagi. Pada Oktober 1973, Berkshire menjadi pemegang saham eksternal terbesar surat kabar itu.


1974
Bursa AS jatuh, saham Berkshire tergerus
Bursa AS jatuh. Harga saham Berkshire di awal tahun anjlok separuhnya, dari US$ 80 ke US$ 40.


1975
Bergabung dengan Charlie Munger
SEC menginterogasi Buffett dengan tuduhan memanipulasi harga saham Wesco, namun tak ada hasilnya. Buffett menggabungkan Berkshire dengan Diversified, perusahaan yang dikontrol Charlie Munger. Munger memperoleh 2% saham Berkshire dan menjadi vice chairman Berkshire sampai kini.


1976
Mengincar GEICO
Berkshire membeli saham GEICO ketika harganya hanya sekitar US$ 2. Ini merupakan pembelian perdana yang mengawali serangkaian pembelian selanjutnya, sampai akhirnya tahun 1994 Berkshire menguasai GEICO seluruhnya.


1977
Saham Berkshire menanjak
Saham Berkshire Hathaway menembus US$ 132 dan kekayaan bersih Buffett US$ 70 juta. Namun Susie meninggalkan Buffett meski keduanya tidak resmi bercerai.


1979
Saham Berkshire mencapai US$ 290 per saham.
Saham Berkshire mencapai US$ 290 per saham. Kekayaan pribadi Buffett sekitar US$ 140 juta, namun ia hidup hanya dengan gaji US$ 50.000 per tahun. Berkshire mulai mengakuisisi saham ABC.


1983
Masuk daftar orang kaya dunia
Investasi Berkshire bernilai total US$ 1,3 miliar. Tahun itu, harga sahamnya mulai diperdagangkan pada US$ 775 dan di akhir tahun melonjak ke US$ 1.310. Kekayaan Buffett US$ 620 juta. Ia pun masuk dalam daftar orang terkaya dunia versi majalah Forbes untuk pertama kalinya. Di tahun ini, ia mengakuisisi Nebraska Furniture seharga US$ 60 juta. Ini merupakan salah satu investasi terbaiknya.


1985
Menutup usaha tekstil Berkshire
Buffett akhirnya menutup pabrik tekstil Berkshire setelah bertahun-tahun mempertahankannya. Saham Berkshire di harga US$ 2.600.


19 Oktober 1987
Black Monday, saham Berkshire ikut jeblok
Bursa AS kolaps di hari yang dikenal dengan nama Black Monday. Seminggu sebelumnya, Berkshire masih berada di level US$ 4.230 per saham. Tapi di tanggal 19 Oktober, harga langsung jeblok ke US$ 3.170. Di hari ini, Buffett pribadi merugi US$ 342 juta.


1988
Masuk ke Coca Cola
Buffett mulai membeli saham Coca-Cola. Ia memborong 7% saham perusahaan senilai US$ 1,02 miliar.


1989
Saham Berkshire melesat hampir dua kali lipat
Berkshire naik dari US$ 4.800 per saham ke atas US$ 8.000. Warren kini memiliki kekayaan US$ 3,8 miliar.


1990
Membeli bank Wells Fargo
Buffett membeli 10% saham bank Wells Fargo. Buffett tertarik melihat Chairman Wells Fargo Carl Reichardt memangkas biaya dengan menjual pesawat jetnya.


29 Mei 1990
Menerbitkan saham Berkshire class A
Berkshire Hathaway mulai menawarkan saham Berkshire class A. Harganya ditutup pada US$ 7.175 per saham. Nama Warren Buffett semakin populer sebagai investor sekaligus miliuner.


1992
Menembus US$ 10.000
Berkshire kini sudah menjadi saham seharga US$ 10.000. Harga sahamnya terus mendaki.


1993
Menjadi orang terkaya se-Amerika
Majalah Forbes menobatkannya sebagai orang terkaya di Amerika Serikat. Setahun setelahnya, posisi itu digeser oleh Bill Gates.


1996
Menerbitkan saham Baby Berkshire
Berkshire menerbitkan saham kelas B atau Baby Berkshire di harga US$ 1.100. Saham kelas B ini jauh lebih murah ketimbang saham kelas A yang nilainya mencapai US$ 36.000 karena Berkshire saham sekali tak pernah melakukan pemecahan saham.


2000
Bubble dotcom, Buffett tak bergeming
Di saat pelaku pasar heboh dengan gelembung saham dotcom, Berkshire malah membeli perusahaan cat Benjamin Moore Paint. Dalam suratnya kepada pemegang saham, Buffett menjelaskan, "Kami telah memasuki abad ke-21 dengan berinvestasi pada industri-industri mutakhir seperti bata, karpet, pemanas, dan cat. Cobalah mengontrol kesenanganmu.


2001
Tragedi 9/11 memukul bisnis asuransi Berkshire
Untuk pertama kalinya di bawah Buffett, nilai buku Berkshire negatif. Tragedi 9/11 menggerus bisnis asuransinya. Namun, kinerja Berkshire masih melampaui S&P 500. Kepada pemegang saham Berkshire, Buffett berkata, "Istri saya dan saya belum pernah menjual satu saham pun, dan kami juga belum pernah berniat menjualnya."


2003
Lelang untuk makan bareng Buffett
Ebay menggelar lelang amal bagi siapa saja yang ingin makan bersama Warren Buffett. Penawar tertinggi yang memenangkan lelang itu membayar senilai US$ 250.100.


2006
Mulai mencari kandidat penerus
Dalam surat tahunannya kepada pemegang saham, Warren Buffett mengumumkan ia sedang mencari kandidat untuk mengambil alih bisnisnya. Ia juga mengungkapkan akan mendonasikan 85% kekayaannya untuk amal.


2008
AS krisis, Buffet malah beli Goldman Sachs
Buffett mengunjungi Jerman, Swiss, Spanyol, dan Italia. Perjalanan ini sebagian besar bermasuk mengenalkan Buffett pada pelaku bisnis Eropa yang ingin menjual bisnisnya ke Berkshire. Di tengah panasnya krisis subprime, Buffett membeli saham Goldman Sachs. Ia juga menulis opini kontroversial di New York Times berjudul "Buy American. I am,". Intinya adalah menyarankan Obama menaikkan pajak untuk orang kaya. Usul Buffett ini kemudian menjadi beleid bernama Buffett Rule yang hingga kini masih dibahas di parlemen.


2009
Pasar crash, Berkshire ikut terpukul
Pada Maret, pasar jatuh ke titik terendahnya. Saham Berkshire pun turun 50%. Berkshire juga merugi US$ 5 miliar akibat investasi derivatif.


2010
Stock split Berkshire yang pertama
Berkshire membeli sisa saham Burlington Northern Santa Fe Corp. senilai US$ 26 miliar yang menjadi pembelian terbesarnya. Sebagai bagian dari pembelian, Berkshire melakukan stock split untuk saham Berkshire Class B, stock split pertama dalam sejarah perusahaan.


2011
Membeli saham-saham teknologi
Pasar kaget. Buffett yang selama ini dikenal antipati pada saham-saham internet dan teknologi, akhirnya melanggar aturannya sendiri. Ia membeli raksasa komputer IBM. Namun Buffett mengaku pembelian itu semata-mata karena ia merasa harga saham IBM sedang murah. "Cocok dengan semua prinsip saya," ujarnya. Tak lama berselang, Buffett membeli saham Intel.


Rabu, 29 Agustus 2012

Tentang PT Indofood Sukses Makmur Tbk

Tentang PT Indofood Sukses Makmur Tbk ("Indofood") (BEI : INDF) adalah perusahaan Total Food Solutions yang terkemuka dengan kegiatan operasi yang mencakup seluruh tahapan proses produksi makanan, mulai dari produksi dan pengolahan bahan baku hingga menjadi produk akhir yang tersedia di pasar.

Indofood mengoperasikan empat Kelompok Usaha Strategis yang saling melengkapi :
  • Produk Konsumen Bermerek, kegiatan usaha grup ini dilaksanakan oleh PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. ("ICBP"), tercatat di Bursa Efek Indonesia sejak tanggal 7 Oktober 2010. ICBP merupakan salah satu produsen makanan dalam kemasan. Berbagai merek ICBP merupakan merek-merek yang terkemuka dan dikenal di Indonesia untuk makanan dalam kemasan.
  • Bogasari, memiliki kegiatan usaha utama memproduksi tepung terigu dan pasta.
  • Agribisnis, kegiatan usaha grup ini dijalankan PT. Salim Ivomas Pratama Tbk. dan PT. Perusahaan Perkebunan London Sumatera Indonesia Tbk., keduanya  tercatat di Bursa Efek Indonesia dan merupakan anak perusahaan Indofood Agri Resources Ltd, tercatat di Bursa Efek Singapura. Kegiatan utama grup ini meliputi penelitian dan pengembangan, pembibitan kelapa sawit, pemuliaan, termasuk juga penyulingan, branding, serta pemasaran minyak goreng, margarin dan shortening. Di samping itu, kegiatan usaha grup ini mencakup pemuliaan dan pengolahan karet, tebu, kakao dan teh.
  • Distribusi, memiliki jaringan distribusi yang paling luas di Indonesia. Grup ini mendistribusikan hampir seluruh produk konsumen Indofood dan anak-anak perusahaannya serta berbagai produk pihak ketiga.

Sabtu, 25 Agustus 2012

Katanya


  • ADRO dimiliki oleh Sandiago Uno, TP Rahmat, Garibaldi Tohir, Edwin (anak Om Wiliam pendiri Astra) dan juga Soebianto.
  • Soebianto merupakan mantan direktur UNTR yang juga merupakan mertua dari direktur corporate sectretary ADRO yang meninggal kecelakaan motor Ducati itu.
  • Management ADRO bekas orang Astra didikan om Wiliam langsung.
  • LSIP anak SIMP (59.48%)
    SIMP anak Indofood Agri Resources (72%) + INDF (6.4%)
    Indoagri anak INDF (58.2%)
    Jadi INDF punya LSIP kira2 29%

Kamis, 23 Agustus 2012

The Euro Is Not in Trouble. People Are. by Vicente Navarro

One of the phrases frequently written in economic circles in the United States (and to a lesser degree in Europe) is “the Euro is going to collapse.” Those who repeat that phrase over and over again do not seem to know how the Euro was established, by whom, and for whose benefit. If they knew the history of the Euro, they would have noticed that the major forces behind the Euro have done very well and continue to do so. As long as they continue to benefit from the Euro’s existence, the Euro will continue to exist.

Let’s start with the Euro’s history and the major reason it was established. After the collapse of the Berlin Wall, it looked like East and West Germany could reunite and as the Western German establishment wanted become, once again, a united Germany. That possibility did not please democratic Europe. Twice in the 20th century, the majority of European countries had to go to war to stop the expansionist aims of a united Germany. The European governments were not pleased to see post-Nazi Germany reunited. President François Mitterrand of France even said ironically that, “I love Germany so much that I prefer to see two Germanys rather than one.”

The only alternative these governments saw was to make sure the united Germany would not become an isolated country in front of everyone else. Germany had to become integrated into Europe. It had to become Europeanized. Mitterrand thought one way of doing this was to have the German currency, the mark, be replaced by a new European currency, the Euro. This was thought to be a way of anchoring post-Nazi Germany to democratic Europe.

The German establishment, however, put forth conditions. One was to establish a financial authority, the European Central Bank (ECB), that would manage the Euro and have as its only objective to keep inflation down. The ECB would be under the heavy influence of (i.e., controlled by) the German Central Bank, the Bundenbank. The other condition was to establish the Stability Pact, which would impose financial discipline on member states of the Eurozone. Their public deficits would have to remain lower than 3% of their GDP, even in moments of recession.

The ECB is instructing the governments of its monetary zone to dismantle Social Europe and they are doing it.

To understand why the other countries accepted these conditions, one has to understand that neoliberalism (which started with President Ronald Reagan in the United States and with Prime Minister Margaret Thatcher in the United Kingdom) was the dominant ideology in those countries. A major position within that neoliberal dogma was to reduce the role of the states as much as possible, encouraging private financing and de-emphasizing domestic demand as the way of stimulating the economy. In this view, the main motor of the economy should be the growth of exports. These are the roots of the problem not of the Euro, which is in good health but of the welfare and well-being of the population in those countries.

The European Central Bank is not a central bank

What a central bank does, among other things, is to print money and, with that money, buy public bonds of the state, making sure the interest rates on those bonds are reasonable and do not become excessive. (The U.S. Federal Reserve, for example, has created more than $2.3 trillion since 2008 and used it to buy U.S. government bonds and mortgage-backed securities).  The central bank protects states against the financial market’s speculation. The ECB, however, does not do this. The interest rates on the states’ public debt in some countries has skyrocketed because the ECB has not bought any of their debt for quite some time. Spain and Italy are fully aware of this.

What the ECB does, however, is to lend a lot of money to private banks at a very low interest rate (lower than 1%), with which they buy public bonds with very high interest (6% to 7% in Italy and Spain). It is a fantastic deal for these banks! Since last December, the ECB has lent more than 1 trillion Euros (1,000,000 million Euros) to private banks, half of it (500,000 million Euros) to Spanish and Italian banks. This transfer of public funds (the ECB is a public institution) to the private financial sector is justified by indicating that this aid was needed in order to save the banks and, thus, ensure credit is being offered to small and medium-sized business enterprises and families in debt. Credit, however, has not appeared. Both individuals and businesses continue to have difficulties obtaining it.

Occasionally, the ECB buys public bonds in the secondary markets from states that are in trouble, but it buys them in an almost clandestine way, in very small doses and for very short periods of time. The financial markets are aware of this situation. This is why the high interest of the public bonds goes down for a while when the ECB buys them and then goes up again, making it very difficult for states to sustain them. The ECB should announce openly that it will not allow the interest of the public bonds to go over a certain level, making it impossible for financial markets to speculate with them. But the ECB does not do this, leaving the states unprotected in front of those financial markets.
In this situation, the agreement that Spain and Italy must reduce their public deficits to recover the confidence and trust of financial markets is not credible. Spain has been reducing the public deficit, while the interest of Spanish bonds has been increasing, proving that it is the ECB, not the financial markets, that can determine what that interest rate will be.

Who controls the European financial system?

In theory, the ECB was supposed to be the manager of the Euro. But the one that really controls the Euro, and the European financial system, is the Bundesbank, the German Central Bank. It was designed that way, as previously noted. But there was another reason for control of the European financial system by the Bundesbank and the German banks. That influence (almost to the point of control) was the result of a set of decisions made by the German government, specifically by the Schröder social democratic government (Program 2010), and continued by Merkel’s conservative governments, which emphasized the export sector as the economy’s main motor. Oskar Lafontaine, Schröder’s Minister of Finance, wanted to put domestic demand as the main motor of the German economic recovery. He proposed increasing salaries and public expenditures. He lost and left the social democratic party, forming a new party, Die Link/The Left, and Schröder (now working for an export-oriented industry) won. As a consequence of that emphasis on exports (the majority to the Eurozone), German banks accumulated an enormous amount of Euros. Rather than using these Euros to increase German workers’ salaries (which would have stimulated not only the German economy, but the whole European economy), the German banks exported those Euros, investing in the periphery of the Eurozone. That investment was the cause of the housing bubble in Spain. Without German money, the Spanish banks could not have financed that bubble, which was based on a huge speculation.

When did the crisis appear in Spain?

When German banks stopped lending to Spain as a result of their panic (when they learned that they themselves were contaminated with toxic products from U.S. banks) the housing bubble collapsed, creating a hole in the Spanish economy equivalent to 10% of its gross domestic product, all within a few months. It was an economic tsunami, an authentic disaster. Immediately, the public national budget went from a surplus to an enormous deficit, as a result of the collapse of revenues to the states. It was not a result of growth of public expenditures (Spain had the lowest public expenditures per capita among the EU-15), but rather the dramatic decline of revenues due to the economic collapse. The emphasis by the “Troika” (the European Commission, European Central Bank, and International Monetary Fund) that Spain needs to cut its public expenditures even more is profoundly wrong because the public deficit has not been caused by a growth of those expenditures (as suggested by the frivolous remarks of Chancellor Merkel about the “extravagance of the Spanish public sector”). Moreover, those cuts have brought about another recession.

What is the purpose of the financial aid?

The official rhetoric is that the financial authorities of the Eurozone have made available to Spain 100,000 million Euros to help its banks. Reality, however, is very different. The Spanish banks and the Spanish state are deeply in debt. They owe a lot of money to foreign banks, including German banks, which have lent almost 200,000 million Euros to Spain. These banks are screaming to have their money back. That is why the 100,000 million Euros have been approved by the German parliament. Peter Bofinger, economic advisor to the German government, put it quite clearly: “This assistance is not to these countries in trouble (like Spain) but rather to our own banks who own a lot of private debt in those countries.” (Pratap Chatterjee, “Bailing out Germany: The Story Behind the European Financial Costs” [28/05/42]). It could not have been said better.

If the European authorities had wanted to help Spain, they should have lent that money at very low interest to the Spanish public credit agencies (such as ICO, Official Institute of Credit), resolving the enormous problem of lack of credit in Spain. This alternative was, of course, never considered.

Where is the supposed problem with the Euro?

The fact that Spain has an enormous problem of lack of liquidity does not mean the Euro is in trouble. Many regional governments cannot pay their public servants because of a lack of money. As a matter of fact, those enormous differences in credit availability within the Eurozone are benefiting the German banks. Today, there is a flow of capital from Spain to Germany, enriching German banks and making German public bonds very secure. The fact that there is an enormous crisis with huge unemployment rates in the peripheral countries does not mean, however, that the Euro is in crisis. It would be in crisis only if these peripheral countries, including Spain, would leave the Euro. That would mean the collapse of the German banks and the European financial system. But this is not going to happen. The measures being taken in Spain and other peripheral countries, with the support of the Troika, by the Spanish and other governments are the measures that the conservative forces they represent have always dreamed of: cutting salaries, eliminating social protection, dismantling the welfare state, and so on. They claim they are doing it because of instructions from Brussels, Frankfort, or Berlin. They are shifting responsibilities to foreign agents, who supposedly are forcing them to do it. It is the externalization of blame. Their major slogan is, “There are no alternatives!”

When Mr. Mario Draghi, the president of the European Central Bank, calls Mr. Mariano Rajoy, the Spanish president of the most conservative government in the European Union, close to the Tea Party of the United States, he tells him that in order to help him, he will have to make reforms in the labor market (i.e., make it easier for employers to fire workers). He is quite open about it. In a recent press conference (August 9, 2012), Mr. Draghi was quite clear. The ECB will not buy Spanish public bonds unless the Spanish government takes tough, unpopular measures such as reforming the labor market, reducing pension benefits, and privatizing the welfare state. The Rajoy government will gladly follow these instructions. It has already made many cuts and projects 120,000 million Euros more in cuts within the next two years. The Euro and its system of governance are working beautifully for those who have the major voice within the Eurozone today. The ECB is instructing the governments of its monetary zone to dismantle Social Europe and they are doing it. It is what my good friend Jeff Faux, a founder of the Economic Policy Institute in Washington, D.C., used to call “the international class alliances,” that is, the alliance among the dominant classes around the world. That alliance is clearly operating in the Eurozone today. It is because of this that the Euro is going to be around for a long, long time.


Rabu, 22 Agustus 2012

Urutan Pangkat Kepolisian

  1. TAMTAMA (Bharada - Bharatu - Bharaka)

  2. TAMTAMA TINGGI ( Abripda - Abriptu - Abrippol)

  3. BINTARA (Bripda - Briptu - Brippol - Bripka)

  4. BINTARA TINGGI (Aipda - Aiptu)

  5. PERWIRA PERTAMA (Ipda - Iptu - AKP)

  6. PERWIRA MENENGAH (Kompol - AKBP - Kombes Pol)

  7. PERWIRA TINGGI (Brigjen Pol - Irjen Pol - Komjen Pol - Jend Pol)

Minggu, 19 Agustus 2012

Posisi Investor



bullish berat --> gorengan hunter 
bullish       --> darvasers
sideways      --> swing trader
bearish       --> fundamentalist

Corporate Action - Stock Split


  • Umumnya harga pasar sebuah saham naik menjelang stock split.
  • Umumnya harga pasar sebuah saham juga naik pasca stock split.

Jumat, 17 Agustus 2012

Nasehat Warren Buffet Untuk Para Remaja

Hindari kartu kredit atau hutang bank dan berinvestasi pada diri sendiri dan ingat:

  • Uang tidak menciptakan manusia tetapi orang yang menciptakan uang.
  • Jalani kehidupan Anda sesederhana apa adanya.
  • Jangan lakukan apa yang orang lain katakan, hanya mendengarkan mereka, tapi lakukan apa yang Anda rasa baik.
  • Jangan melekat pada merk, cukup pakai barang yang membuat Anda merasa nyaman.
  • Jangan menghabiskan uang Anda untuk hal yang tidak perlu, gunakan hanya pada hal yang benar-benar di butuhkan.
Bagaimanapun ini adalah hidup Anda, maka mengapa memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mengatur hidup Anda.

Kamis, 16 Agustus 2012

Obama Berprestasi Di Pasar Saham, Akankah Ia Terpilih Kembali?


Ipotnews - Kepemimpinan Barack Obama boleh saja dipersoalkan dalam membenahi perekonomian Amerika Serikat yang tak kunjung pulih sejak 2008. Tetapi, untuk kalangan investor saham, Obama adalah salah satu presiden terbaik yang dimiliki Amerika Serikat sejak Perang Dunia II. Akankah catatan gemilang itu bisa membantunya untuk mempertahankan jabatan empat tahun ke depan di Gedung Putih?

Indeks S&P 500 yang berada di level 1.400 pada akhir pekan lalu makin mendekati tingkat tertinggi selama empat tahun terakhir dan meningkat 74 persen sejak 20 Januari 2009, hari ketika Obama diambil sumpah sebagai Presiden ke-44 AS. Sejak era Dwight Eisenhower, tidak ada seorang presiden pun yang mampu membuat prestasi seperti itu pada masa jabatan pertama mereka.

Seperti ditulis Reuters, Senin (13/8), rally tersebut kemungkinan cukup bagi Obama untuk meraih masa jabatan kedua. Jika hal itu terjadi, Obama tercatat sebagai presiden pertama pasca-Perang Dunia II yang memenangkan masa jabatan kedua dengan tingkat pengangguran lebih dari 7,2 persen.

"Meskipun kalangan bisnis dan sentimen korporasi menyatakan Obama tidak baik bagi perekonomian, fakta bahwa pasar (modal) berjalan sangat baik di bawah kepemimpinannya merupakan satu hal yang sangat positif," papar pimpinan The Washington Exchange, Ethan Siegal, yang menganalisa politik bagi investor kelembagaan.

Menoleh ke belakang, segera setelah menjabat, Presiden Obama bahkan mengarungi badai di kawasan berbahaya ramalan pasar modal.

Pada 3 Maret 2009, menanggapi pertanyaan tentang pasar yang anjlok di titik terendah selama 12 tahun, Obama menyatakan, "Apa yang Anda lihat sekarang adalah rasio laba dan kekayaan mulai berada di titik di mana membeli saham sangat berpotensi, jika Anda punya perspektif jangka panjang tentang itu."

Sepekan kemudian, indeks S&P 500 kandas di level terendah. Namun, tiga tahun kemudian kapitalisasi bursa AS berlipat ganda, bertambah USD6,8 triliun.

"Pasar saham adalah barometer bukan pada tingkat absolut ekonomi tetapi dari perbaikan ekonomi," kata mantan pakar strategi Merrill Lynch, Richard Bernstein, yang sekarang mengelola perusahaan manajemen investasi sendiri. "Tidak ada keraguan ekonomi telah meningkat dalam empat tahun terakhir," tegasnya lagi.

Kearifan konvensional mengatakan bahwa reli pasar saham adalah kabar baik bagi seorang presiden yang tengah menjabat dan terbukti cukup membantu yang bersangkutan mempertahankan jabatan. Tetapi, tidak semua reli bermakna sama. Sebab, kurangnya dorongan harga rumah dan lemahnya bursa kerja, bisa saja membuat reli kinerja baik bursa saham selama tiga tahun terakhir tak mendatangkan manfaat yang sama bagi Obama. 

Berbagai jajak pendapat dalam beberapa pekan terakhir menunjukkan Obama masih memimpin dibandingkan kandidat presiden dari Republik, Mitt Romney, meskipun para responden mengaku khawatir dengan ekonomi dan arah negara di bawah Obama. Rata-rata, Obama masih memimpin di atas 7 persen atas Romney.

Selain jajak pendapat, posisi kuat Obama juga didukung oleh situs judi Intrade, yang memberi porsi 59 persen bagi Obama untuk terpilih pada pemilu akhir tahun ini, dibanding 38 persen bagi Romney.

Sebuah studi yang dilakukan pada tahun ini oleh Socionomics Institute di Atlanta menemukan bahwa kinerja Dow Jones Industrial Average dalam tiga tahun menjelang pemilu presiden, merupakan indikator yang lebih baik bagi hasil pemilu, dibanding pertumbuhan ekonomi, pengangguran, dan inflasi.

Tepatnya, kenaikan 20 persen atau lebih pada indeks Dow akan memastikan kemenangan bagi incumbent. Sebaliknya,  jika indeks anjlok 10 persen atau lebih berarti sang presiden berkuasa harus bersiap pindah dari Gedung Putih.

Tentu ini seharusnya menjadi kabar baik bagi Obama: Dow naik 35 persen sejak 1 November 2009. Dua pendahulu Obama, Ronald Reagan dan Bill Clinton masing-masing mencetak kenaikan 25 persen dan 35 persen saat menjabat dan keduanya memang terpilih kembali dengan kemenangan yang meyakinkan.

"Riset tentang kinerja harga tahunan sejak 1944 menunjukkan adanya hubungan antara kinerja pasar modal dan faktor-faktor seperti incumbent akan terpilih kembali," ungkap Sam Stovall, kepala strategi investasi untuk Layanan Riset Ekuitas Standard & Poor.

Tapi pada 1990-an, misalnya, saham naik di tengah ledakan ekonomi yang mendorong pertumbuhan lapangan pekerjaan dan harga rumah, yang membuat semua orang merasa lebih kaya. "Efek kekayaan" ini dinilai banyak absen kali ini.

Sementara tingkat bunga rekor terendah dan pembiayaan murah dari Federal Reserve telah membantu mendongkrak saham, mereka telah berbuat banyak untuk meringankan pukulan dari keruntuhan industri perumahan atau mendorong perusahaan stop merekrut pekerja. Tingkat pengangguran bulan lalu mencapai 8,3 persen, persis ketika Obama mulai duduk di Gedung Putih.

"Perekonomian yang tumbuh lambat dengan hampir 13 juta orang Amerika kehilangan pekerjaan berarti tidak ada otang yang merasa makmus hanya karena kita pernah mengalami reli pasar," ujar Sean West, kepala analis pada The Eurasia Group, konsultan yang menganalis perkembangan politik bagi perusahaan dan investor.

"Bahkan jika Anda berbuat tepat saat ini, siapa yang tahu nasib Anda dalam enam bulan ke depan? Dalam lingkungan yang bervolatilitas baik, sulit bagi orang untuk merasa baik," lanjutnya.

Sebagai contoh, hal yang tidak selalu berjalan seperti yang direncanakan adalah kegagalan George HW Bush gagal memperpanjang masa jabatan pada 1992, meskipun indeks S&P naik 46 persen selama masa jabatannya.

David Kelly, pakar senior strategi global pada JPMorgan Asset Management menyatakan: "Saya menduga jika Anda menghentikan 20 orang di jalan dan bertanya berapa banyak nilai 401 (K) (pensiun) telah meningkat dalam tiga tahun terakhir, jawaban mereka tidak akan persis. Jadi meskipun S&P telah naik dua kali lipat dari nilai terendah yaitu di (Maret) 2009, kebanyakan orang Amerika tidak menyadari itu."

Meski begitu, Robert Prechter, Presiden Elliott Wave International dan salah satu penulis studi 
Socionomic Institute, yakin pasar saham memiliki catatan kuat bahwa pasar saham merupakan indikator kuat dan bisa digunakan untuk mengukur "mood" para pemilih.

"Tidak ada hasil pemilu yang meyakinkan secara spesifik, tapi kita dapat mengatakan bahwa suasana sosial telah menjadi jauh lebih positif selama masa Obama sebagai presiden, Kami skeptis "dampak kekayaan" merupakan mood kebanyakan pemilih," katanya. "Meski ekonomi tetap lemah, kecenderungan suasana sosial yang positif selama tiga tahun terakhir, harusnya membuat pemilih cenderung tidak mengungkapkan perasaan buruk terhadap Presiden (Obama)."

Buktinya, jajak pendapat terakhir Reuters/IPSOS menunjukkan pemilih terdaftar  masih menempatkan Obama lebih tinggi dari Romney terkait masalah lapangan pekerjaan, ekonomi, dan pajak.

John Manley, kepala strategi ekuitas di Manajemen Dana Wells Fargo, mengatakan Obama juga menang poin untuk bertindak cepat dalam hari-hari awal kepresidenannya untuk mencegah resesi berubah menjadi depresi. "Itu cukup memberinya kredit untuk reli di pasar saham saat ini." 

Tentunya, kepribadian dan keandalan berpolitik juga berpengaruh. Menurut West dari Euroasia, kampanye Obama yang menyerang Romney terkait posisinya sebagai eksekutif privat ekuitas pada Bain Capital dan prestasi Obama  selama pemerintahannya cukup efektif.

Semua optimisme bagi Obama itu tentu saja tidak bebas dari ayunan besar pasar yang mungkin terjadi dari saat ini hingga saat pemilu November mendatang. "Jika krisis utang Eropa memburuk, secara langsung hal itu akan menghantam pasar hanya dalam sehari, membuat Obama terlihat lemah dan tidak efektif," tandas West.

Pastinya, hingga saat ini kinerja pasar saham masih berkorelasi positif terhadap pemerintahan Obama...

Rabu, 15 Agustus 2012

Jumat, 10 Agustus 2012

CRABTREE & EVELYN tiba di Indonesia!


Jakarta, 9 Agustus 2012: Crabtree & Evelyn membuka gerai pertamanya di Jakarta pada 2 Agustus 2012. 
Merek ini dihadirkan oleh PT Mitra Adiperkasa Tbk, perusahaan ritel terkemuka di Indonesia. Gerai baru 
Crabtree  & Evelyn  memadukan kekuatan alam  dan ilmu pengetahuan, kemewahan,  kenyamanan, perpaduan kebijaksanaan masa lalu dan kini, untuk menciptakan kenikmatan sensorik bagi tubuh dan jiwa.

Gerai baru yang berukuran 40 meter persegi ini memiliki desain terbuka. Inspirasi gerai Crabtree & Evelyn berasal dari rumah apoteker sederhana atau “ruang penyulingan”  di Inggris. Ruang penyulingan ini  ada ketika tanaman di kebun sudah bersemi - di saat bunga segar, tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan dari kebun dan halaman didestilasi untuk membuat wewangian yang digunakan untuk mandi, serta esens yang menenangkan bagi kulit. Buah yang diawetkan juga diciptakan untuk mencerahkan tempat penyimpanan makanan musim dingin.

Gerai Crabtree & Evelyn terletak di Plaza Indonesia, Mal terkemuka dan mewah, paling eksklusif yang dimiliki Indonesia saat ini. Crabtree & Evelyn "mengeksplorasi dunia dan membuat yang terbaik" untuk 
mengubah rutinitas sederhana menjadi pengalaman wewangian yang meningkatkan suasana hati.


TENTANG CRABTREE & EVELYN

Pelopor dalam formulasi botani selama lebih dari 40 tahun, Crabtree & Evelyn didirikan pada tahun 1972 oleh Cyrus Harvey. Crabtree & Evelyn telah berkembang dari sebuah usaha kecil yang dikelola keluarga - yang  memproduksi  sabun  terbaik  – hingga  menjadi  sebuah perusahaan internasional, terkenal dan dihormati karena keaslian wewangian, peralatan mandi yang mewah, makanan dan minuman terbaik serta menjadi hadiah bagi mereka yang menikmati gaya hidup yang berkelas.


Crabtree & Evelyn dipasarkan juga secara online dan di lebih dari 40 negara, dengan lebih dari 6.000 lokasi dan 500  gerai konsep di seluruh dunia. Jalur distribusi lainnya termasuk  menjadi  fasilitas hotel. 

Untuk informasi lebih lanjut silahkan kunjungi www.crabtree-evelyn.com.hk.

Dikenal sebagai merek yang istimewa, Crabtree & Evelyn sekarang menjadi superbrands di Inggris, Malaysia, Singapura, Hong Kong, Australia dan Selandia Baru.

http://www.idx.co.id/Portals/0/StaticData/NewsAndAnnouncement/ANNOUNCEMENTSTOCK/From_EREP/201208/0B26FBB0-AD18-4454-9AE4-937025C9C88A.PDF


Tentang PT. Mitra Adiperkasa Tbk


Per Juli 2012, MAP mengoperasikan 1.164 toko ritel di 39 kota besar di Indonesia. Konsep utama yang 
dikelola oleh perusahan mencakup:
  • Department Stores :  Sogo, Debenhams, dan Seibu.
  • Fashion & Lifestyle :  Zara, Marks & Spencer, Topman, Topshop, Next, Kipling, Lacoste, Nautica, Massimo Dutti, Pull&Bear, Dorothy Perkins, Miss Selfridge, Nine West,  Stradivarius, Bershka, 
    Samsonite, Linea, Steve Madden, Swatch, Loewe, BCBGMaxazria, MaxMara, Max&Co, Travelogue, 
    Tumi, Sole Effect, Warehouse, H.E. by Mango, New Look, Hoss Intropia, Staccato, Diva, dan DKNY, Crabtree  & Evelyn (9 Agustus 2012)
  • Sports : Converse, Golf House, Payless ShoeSource, Planet Sports, Reebok, Rockport, Skechers, Sports Station, The Athlete's Foot dan The Sports Warehouse.
  • Food & Beverage : Starbucks, Burger King, Domino’s Pizza, Pizza Marzano, Krispy Kreme, Cold Stone Creamery Ice Cream, dan Chatterbox.
  • Kids :  Kidz Station, Oshkosh B’Gosh dan Barbie Boutique.
  • Others :  Kinokuniya dan Alun Alun.
Selain bisnis ritel, grup ini juga merupakan distributor utama lebih dari 90 merek internasional termasuk Reebok, Speedo, Converse, Diadora, Lotto, Airwalk, Superman, Batman, OshKosh B'Gosh dan Thomas & 
Friends. 

Informasi lebih lengkap tentang MAP dapat diperoleh di www.map-indonesia.com

Rabu, 08 Agustus 2012

Online Exclusive Update #120 - The Stock Market is Dead

I see dead people. The dead people are baby-boomers who are counting on the stock market to provide a safe, long-term retirement. Many are going to live a long life, but live in poverty simply because the stock market is dying.

Saya melihat orang mati. Orang-orang mati adalah baby-boomer yang mengandalkan pasar saham untuk memberikan, aman jangka panjang pensiun. Banyak akan hidup lama, tetapi hidup dalam kemiskinan hanya karena pasar saham sedang sekarat.



In my book, Rich Dad’s Prophecy published in 2002, I wrote about the biggest stock market crash in history, a crash that is coming around 2016. Obviously my prediction was a long-term guess but the year 2016 seems to be right on target.

Dalam buku saya, Rich Dad Prophecy yang diterbitkan pada tahun 2002, saya menulis tentang crash pasar saham terbesar dalam sejarah, kecelakaan yang datang sekitar 2016. Jelas prediksi saya menebak jangka panjang tetapi tahun 2016 tampaknya menjadi tepat sasaran.



After Rich Dad’s Prophecy was published, I was severely criticized by journalists from publications such as The Wall Street Journal, Money Magazine, and Smart Money. Yahoo Finance dropped me as a contributing writer, simply because I caused too much of a ruckus with their advertisers. It was a gamble stating my prediction, but sometimes a person must say what they must say… even if unpopular.

Setelah Rich Dad Propechy diterbitkan, saya dikritik oleh para wartawan dari publikasi seperti The Wall Street Journal, Money Magazine, dan Smart Money. Yahoo Finance menurunkan saya sebagai penulis memberikan kontribusi, hanya karena saya disebabkan terlalu banyak keributan dengan pengiklan mereka. Ini adalah judi yang menyatakan prediksi saya, tapi kadang-kadang seseorang harus mengatakan apa yang mereka harus mengatakan ... meskipun tidak populer.



Today, I am not alone. Bill Gross, the respected Co-founder of the largest bond fund in the world, PIMCO (Pacific Investment Management Company), is now saying the same thing. On Tuesday, July 29, 2012, he stated that consistent annual returns are a thing of the past. He said, “The cult of equity is dying. Like a once-bright aspen turning subtle shades of yellow then red in the Colorado fall, investors’ impressions of ‘stocks for the long run’ or any run have mellowed as well.”

Hari ini, saya tidak sendirian. Bill Gross, yang dihormati Co-founder dana obligasi terbesar di dunia, PIMCO (Pacific Investment Management Company), sekarang mengatakan hal yang sama. Pada Selasa, Juli 29, 2012, ia menyatakan bahwa pengembalian tahunan yang konsisten adalah hal di masa lalu. Dia berkata, "Kultus ekuitas sedang sekarat. Seperti sekali-terang warna aspen halus balik dari kuning kemudian merah di musim gugur Colorado, 'tayangan' investor saham untuk jangka panjang 'atau menjalankan setiap telah melunak juga.



He also said the stock market operates as a Ponzi scheme, showing returns that have no bearing on reality. For those of you who have followed me, you know I have been saying the same thing for years.

Dia juga mengatakan pasar saham beroperasi sebagai skema Ponzi, menunjukkan pengembalian yang tidak memiliki bantalan pada realitas. Bagi anda yang telah mengikuti saya, Anda tahu saya telah mengatakan hal yang sama selama bertahun-tahun.



A Ponzi scheme keeps investors happy as long as there is fresh new money entering the market. New investors buy stocks that old investors are selling. The eventual panic and collapse will occur sometime around 2016, when there are no new investor blood transfusions for older dying baby-boomers. It will not be pretty.

Skema Ponzi membuat investor senang selama ada uang baru yang segar memasuki pasar. Investor baru membeli saham-saham yang investor lama jual. Kepanikan akhirnya dan keruntuhan akan terjadi sekitar tahun 2016, jika tidak ada transfusi darah baru investor untuk lebih tua baby boomer-sekarat. Ini tidak akan cukup.



Financial planners will always say, “Invest for the long-term.” John Bogle, founder of the Vanguard Funds and another investment professional I respect, continues with the “invest for the long-term” mantra, in spite of what Bill Gross says.


Perencana keuangan akan selalu berkata, "Berinvestasilah untuk jangka panjang." John Bogle, pendiri Vanguard Funds dan investasi lain profesional saya hormati, terus dengan "berinvestasi untuk jangka panjang" mantra, meskipun apa yang Bill Gross mengatakan.



The question is, who should you listen to? 

Pertanyaannya adalah, siapa yang harus Anda dengarkan?



My advice is always the same. If you are going to be an investor, first invest in financial education. If you are going to invest in the stock market, take “technical investment” courses. Learn how to make money regardless if the stock market is going up or down. Learn to invest with insurance, such as “stops” and “options.” You still have time to take classes, simulate or practice trading with small amounts of money and prepare for the biggest market crash in history.


Saran saya adalah selalu sama. Jika Anda akan menjadi seorang investor, pertama berinvestasi dalam pendidikan keuangan. Jika Anda akan berinvestasi di pasar saham, mengambil " technical investment" kursus. Pelajari cara membuat uang terlepas dari apakah pasar saham akan naik atau turun. Belajar berinvestasi dengan asuransi, seperti "berhenti" dan Anda masih punya waktu untuk mengambil kelas, simulasi atau praktek perdagangan dengan sejumlah kecil uang dan mempersiapkan kehancuran pasar terbesar dalam sejarah "pilihan.".



If I am correct and the stock market begins to collapse around 2016, many professional investors will make a “killing.” Unfortunately, those being killed will baby-boomers, amateurs and the uneducated.

Jika saya benar dan pasar saham mulai runtuh sekitar tahun 2016, investor profesional banyak akan membuat "membunuh." Sayangnya, yang dibunuh adalah  baby-boomer, amatir dan tak berpendidikan.



This is why I see dead people. Don’t be one of them. 

Ini adalah mengapa saya melihat orang-orang mati. Jangan menjadi salah satu dari mereka.