Kamis, 16 Agustus 2012

Obama Berprestasi Di Pasar Saham, Akankah Ia Terpilih Kembali?


Ipotnews - Kepemimpinan Barack Obama boleh saja dipersoalkan dalam membenahi perekonomian Amerika Serikat yang tak kunjung pulih sejak 2008. Tetapi, untuk kalangan investor saham, Obama adalah salah satu presiden terbaik yang dimiliki Amerika Serikat sejak Perang Dunia II. Akankah catatan gemilang itu bisa membantunya untuk mempertahankan jabatan empat tahun ke depan di Gedung Putih?

Indeks S&P 500 yang berada di level 1.400 pada akhir pekan lalu makin mendekati tingkat tertinggi selama empat tahun terakhir dan meningkat 74 persen sejak 20 Januari 2009, hari ketika Obama diambil sumpah sebagai Presiden ke-44 AS. Sejak era Dwight Eisenhower, tidak ada seorang presiden pun yang mampu membuat prestasi seperti itu pada masa jabatan pertama mereka.

Seperti ditulis Reuters, Senin (13/8), rally tersebut kemungkinan cukup bagi Obama untuk meraih masa jabatan kedua. Jika hal itu terjadi, Obama tercatat sebagai presiden pertama pasca-Perang Dunia II yang memenangkan masa jabatan kedua dengan tingkat pengangguran lebih dari 7,2 persen.

"Meskipun kalangan bisnis dan sentimen korporasi menyatakan Obama tidak baik bagi perekonomian, fakta bahwa pasar (modal) berjalan sangat baik di bawah kepemimpinannya merupakan satu hal yang sangat positif," papar pimpinan The Washington Exchange, Ethan Siegal, yang menganalisa politik bagi investor kelembagaan.

Menoleh ke belakang, segera setelah menjabat, Presiden Obama bahkan mengarungi badai di kawasan berbahaya ramalan pasar modal.

Pada 3 Maret 2009, menanggapi pertanyaan tentang pasar yang anjlok di titik terendah selama 12 tahun, Obama menyatakan, "Apa yang Anda lihat sekarang adalah rasio laba dan kekayaan mulai berada di titik di mana membeli saham sangat berpotensi, jika Anda punya perspektif jangka panjang tentang itu."

Sepekan kemudian, indeks S&P 500 kandas di level terendah. Namun, tiga tahun kemudian kapitalisasi bursa AS berlipat ganda, bertambah USD6,8 triliun.

"Pasar saham adalah barometer bukan pada tingkat absolut ekonomi tetapi dari perbaikan ekonomi," kata mantan pakar strategi Merrill Lynch, Richard Bernstein, yang sekarang mengelola perusahaan manajemen investasi sendiri. "Tidak ada keraguan ekonomi telah meningkat dalam empat tahun terakhir," tegasnya lagi.

Kearifan konvensional mengatakan bahwa reli pasar saham adalah kabar baik bagi seorang presiden yang tengah menjabat dan terbukti cukup membantu yang bersangkutan mempertahankan jabatan. Tetapi, tidak semua reli bermakna sama. Sebab, kurangnya dorongan harga rumah dan lemahnya bursa kerja, bisa saja membuat reli kinerja baik bursa saham selama tiga tahun terakhir tak mendatangkan manfaat yang sama bagi Obama. 

Berbagai jajak pendapat dalam beberapa pekan terakhir menunjukkan Obama masih memimpin dibandingkan kandidat presiden dari Republik, Mitt Romney, meskipun para responden mengaku khawatir dengan ekonomi dan arah negara di bawah Obama. Rata-rata, Obama masih memimpin di atas 7 persen atas Romney.

Selain jajak pendapat, posisi kuat Obama juga didukung oleh situs judi Intrade, yang memberi porsi 59 persen bagi Obama untuk terpilih pada pemilu akhir tahun ini, dibanding 38 persen bagi Romney.

Sebuah studi yang dilakukan pada tahun ini oleh Socionomics Institute di Atlanta menemukan bahwa kinerja Dow Jones Industrial Average dalam tiga tahun menjelang pemilu presiden, merupakan indikator yang lebih baik bagi hasil pemilu, dibanding pertumbuhan ekonomi, pengangguran, dan inflasi.

Tepatnya, kenaikan 20 persen atau lebih pada indeks Dow akan memastikan kemenangan bagi incumbent. Sebaliknya,  jika indeks anjlok 10 persen atau lebih berarti sang presiden berkuasa harus bersiap pindah dari Gedung Putih.

Tentu ini seharusnya menjadi kabar baik bagi Obama: Dow naik 35 persen sejak 1 November 2009. Dua pendahulu Obama, Ronald Reagan dan Bill Clinton masing-masing mencetak kenaikan 25 persen dan 35 persen saat menjabat dan keduanya memang terpilih kembali dengan kemenangan yang meyakinkan.

"Riset tentang kinerja harga tahunan sejak 1944 menunjukkan adanya hubungan antara kinerja pasar modal dan faktor-faktor seperti incumbent akan terpilih kembali," ungkap Sam Stovall, kepala strategi investasi untuk Layanan Riset Ekuitas Standard & Poor.

Tapi pada 1990-an, misalnya, saham naik di tengah ledakan ekonomi yang mendorong pertumbuhan lapangan pekerjaan dan harga rumah, yang membuat semua orang merasa lebih kaya. "Efek kekayaan" ini dinilai banyak absen kali ini.

Sementara tingkat bunga rekor terendah dan pembiayaan murah dari Federal Reserve telah membantu mendongkrak saham, mereka telah berbuat banyak untuk meringankan pukulan dari keruntuhan industri perumahan atau mendorong perusahaan stop merekrut pekerja. Tingkat pengangguran bulan lalu mencapai 8,3 persen, persis ketika Obama mulai duduk di Gedung Putih.

"Perekonomian yang tumbuh lambat dengan hampir 13 juta orang Amerika kehilangan pekerjaan berarti tidak ada otang yang merasa makmus hanya karena kita pernah mengalami reli pasar," ujar Sean West, kepala analis pada The Eurasia Group, konsultan yang menganalis perkembangan politik bagi perusahaan dan investor.

"Bahkan jika Anda berbuat tepat saat ini, siapa yang tahu nasib Anda dalam enam bulan ke depan? Dalam lingkungan yang bervolatilitas baik, sulit bagi orang untuk merasa baik," lanjutnya.

Sebagai contoh, hal yang tidak selalu berjalan seperti yang direncanakan adalah kegagalan George HW Bush gagal memperpanjang masa jabatan pada 1992, meskipun indeks S&P naik 46 persen selama masa jabatannya.

David Kelly, pakar senior strategi global pada JPMorgan Asset Management menyatakan: "Saya menduga jika Anda menghentikan 20 orang di jalan dan bertanya berapa banyak nilai 401 (K) (pensiun) telah meningkat dalam tiga tahun terakhir, jawaban mereka tidak akan persis. Jadi meskipun S&P telah naik dua kali lipat dari nilai terendah yaitu di (Maret) 2009, kebanyakan orang Amerika tidak menyadari itu."

Meski begitu, Robert Prechter, Presiden Elliott Wave International dan salah satu penulis studi 
Socionomic Institute, yakin pasar saham memiliki catatan kuat bahwa pasar saham merupakan indikator kuat dan bisa digunakan untuk mengukur "mood" para pemilih.

"Tidak ada hasil pemilu yang meyakinkan secara spesifik, tapi kita dapat mengatakan bahwa suasana sosial telah menjadi jauh lebih positif selama masa Obama sebagai presiden, Kami skeptis "dampak kekayaan" merupakan mood kebanyakan pemilih," katanya. "Meski ekonomi tetap lemah, kecenderungan suasana sosial yang positif selama tiga tahun terakhir, harusnya membuat pemilih cenderung tidak mengungkapkan perasaan buruk terhadap Presiden (Obama)."

Buktinya, jajak pendapat terakhir Reuters/IPSOS menunjukkan pemilih terdaftar  masih menempatkan Obama lebih tinggi dari Romney terkait masalah lapangan pekerjaan, ekonomi, dan pajak.

John Manley, kepala strategi ekuitas di Manajemen Dana Wells Fargo, mengatakan Obama juga menang poin untuk bertindak cepat dalam hari-hari awal kepresidenannya untuk mencegah resesi berubah menjadi depresi. "Itu cukup memberinya kredit untuk reli di pasar saham saat ini." 

Tentunya, kepribadian dan keandalan berpolitik juga berpengaruh. Menurut West dari Euroasia, kampanye Obama yang menyerang Romney terkait posisinya sebagai eksekutif privat ekuitas pada Bain Capital dan prestasi Obama  selama pemerintahannya cukup efektif.

Semua optimisme bagi Obama itu tentu saja tidak bebas dari ayunan besar pasar yang mungkin terjadi dari saat ini hingga saat pemilu November mendatang. "Jika krisis utang Eropa memburuk, secara langsung hal itu akan menghantam pasar hanya dalam sehari, membuat Obama terlihat lemah dan tidak efektif," tandas West.

Pastinya, hingga saat ini kinerja pasar saham masih berkorelasi positif terhadap pemerintahan Obama...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar