Senin, 12 Mei 2014

Harga Pasar - Harga Wajar - Harga Intrinsik Saham

Harga wajar itu kira-kira sama seperti etika berpakaian kita. Misalkan ketika kita dapat undangan pergi ke pesta dansa maka jelas adalah tidak wajar jika kita menggunakan pakaian renang pergi ke sana. Demikian juga ketika kita akan berenang maka akan heboh sekolam renang jika kita datang dengan menggunakan tuxedo atau dasi. 

Jadi harga wajar itu kira-kira adalah seperti pakaian yang melekat pada diri kita tergantung pada situasi dan kondisi sekitarnya. Uniknya dari harga wajar yang sifatnya seperti pakaian adalah harga wajar bisa berubah sesuai situasi lingkungannya tetapi perusahaan yang dinilai oleh harga tersebut tidak berubah. 

Serupa dengan kita yang bisa berganti-ganti pakaian sesuai acara tertentu tetapi diri kita pribadi dibalik pakaian itu selalu tetap. Nah konsep inilah yang dikenal sebagai intrinsic value. Jadi harga wajar dengan instrinsik value adalah dua hal yang berbeda. 

Intrinsik value cenderung tetap tetapi harga wajar bisa berubah sesuai dengan kondisi makro ekonomi yang menyertai si intrinsic valuenya. 

Lalu bagaimana dengan harga market? Harga market itu sifatnya lebih ke psikologis dan berubah sangat cepat seperti perubahan mood dari manusia. Jadi harga market adalah harga yang tidak pernah wajar karena hanya sifatnya menggunakan perasaan. Lalu ketidakwajaran ini apakah menjadi bencana? Tentu tidak ... karena ketidakwajaran ini justru menimbulkan kesempatan dimana ketika harga market dibawah harga wajar maka kita dihadapkan pada kesempatan untuk MEMBELI ... dan demikian sebaliknya ketika harga market diatas harga wajar maka itulah kesempatan untuk MENJUAL. As simple as that. Lalu mungkinkah harga wajar berada dibawah harga intrinsic??? Pernah dengan actor kawakan Richard Gere yang disangka pengemis karena pakaiannya? Naah inilah kejadian langka yang sangat jarang terjadi dimana harga wajar berada dibawah harga intrinsic apalagi ketika harga market juga berada dibawah harga wajar. Seperti mendapatkan durian runtuh rasanya. 

Lalu bagaimana menghitungnya? Harga market gampang karena itu terlihat tiap detik di running trade. Harga wajar maka anda harus memasukkan unsur disekitar perusahaan kedalam perhitungan value sedangkan harga instrinsik anda melihat nilai real dari asset dan bisnis perusahaan tanpa melihat faktor lain.

sumber milis J-Trader - JV

Kamis, 10 April 2014

Pemilu 2014

Pasar merespon dengan cepat hasil Pemilu legislatif tanggal 9 April 2014. Ekspektasi pasar, PDIP memperoleh suara 30 persen atau minimal 20 persen untuk dapat mewujudkan Jokowi For President. Hasil penghitungan suara menunjukkan bahwa suara yang diperoleh PDIP di bawah ekspektasi dan pasar merespon negatif. Dari penutupan IHSG tanggal 8 April 2014 di 4,921.404. Penutupan IHSG hari ini, tanggal 10 April 2014 di 4765.729, -155.68 point (-3.16%).

Setelah hasil rekapitulasi Pemilu diumumkan pada tanggal 9 Mei 2014, hari Senin, 12 Mei 2014 jam 12 siang, IHSG di 4921.827. Pasangan Capres-Cawapres belum diumumkan.

Selasa, 26 November 2013

Kebiasaan Trader Sukses Ala Dr. Thomas K. Car

Berikut 10 kebiasaan trader sukses dari tulisan Dr. Thomas K. Car.


  1. Follow the rule of three.

  2. Do not enter any trade unless there are three of technical indicators telling the same. Three is the minimum, and more is better.


  3. Keep losses small.

  4. It is important to keep losses to a minimum, as most large losses started out as small ones, and large losses can end your trading permanently. Keep the small losses by setting stop losses on all open trades.


  5. Adjust stops and targets at the end of the day.


  6. Keep commission low.

  7. Why pay a premium for a brand name? Remember, commission are part of your overhead cost.


  8. Amateurs at the open, pros at the closes.

  9. If you must trade in the morning, be sure to ease into your trades in smaller portions. You might miss out on some nice moves, but in long run you will save your money. Even better, look to enter your trades within the last two hours of trading.

  10. Know the general market trends, and trade accordingly. There are five general types of market trends: strong and weak uptrend, strong and weak downtrend, and range-bound.

  11. In weak uptrends and downtrends, you should focus on continuation plays; in strong uptrends and downtrends, you should focus on breakout plays; and in range-bound, you should look for reversal setups.


  12. Write down every trade.

  13. Analyze them at the end of each month. Are you consistently losing with one particular setup? Are your breakout plays working better than your reversal plays? Are your stop losses set to tight? Use this journal to learn about your weakness as a trader.

  14. Never average down on losing position.

  15. Let's say you buy a stock, expecting it to take off like a rocket, and instead it drops like a rock. What do you do? Answer: you do nothing. You stick your plan. You keep your stop loss in place, and wait patiently. Do not buy more shares at a lower price to make your average cost lower. That is a loser's game. You already own shares at that price, why buy more? Why throw good money after bad? Just sit on your hands and let the market do what it wants.


  16. Never overtrade.


  17. Give at least 10 percent of all trading earnings to charity.

Selasa, 01 Oktober 2013

Apa itu Inflasi Inti ?

Berikut kutipan dari kicauan salah satu trader
 Nah ketemu, inflasi inti naik dr 4.48% ke 4.72%. Ini jelek.
Hasil penelusuran, "Apa itu inflasi inti?", menuju ke website BI, yakni Pengenalan Inflasi

Sekilas, Inflasi Inti adalah komponen inflasi yang cenderung menetap atau persisten (persistent component) di dalam pergerakan inflasi dan dipengaruhi oleh faktor fundamental, seperti:

  • Interaksi permintaan-penawaran
  • Lingkungan eksternal: nilai tukar, harga komoditi internasional, inflasi mitra dagang
  • Ekspektasi Inflasi dari pedagang dan konsumen

Sedangkan, Inflasi non Inti adalah komponen inflasi yang cenderung tinggi volatilitasnya karena dipengaruhi oleh selain faktor fundamental, seperti:
  • Inflasi Komponen Bergejolak (Volatile Food)
  • Inflasi Komponen Harga yang diatur Pemerintah (Administered Prices)
Untuk memantau Inflasi Inti melalui chart, bisa memanfaatkan bloomberg di http://www.bloomberg.com/quote/IDIFCRIY:IND

Pemerintah Amerika Serikat Ditutup

Bukan yang pertama kalinya, hari ini, tanggal 1 Oktober 2013, pemerintah Amerika Serikat resmi ditutup karena Kongres tidak menyetujui anggaran baru hingga batas waktu yang ditentukan. Kejadian yang sama sudah pernah terjadi pada tahun 1995 dan 1996. 

Berikut link wikipedia yang menceritakan penutupan pemerintahan AS,
  1. http://en.wikipedia.org/wiki/United_States_federal_government_shutdown_of_2013
  2. http://en.wikipedia.org/wiki/United_States_federal_government_shutdown_of_1995_and_1996


Adakah efek yang heboh akibat peristiwa ini pada bursa AS, berikut gambar yang diambil dari http://www.tradingeconomics.com/united-states/stock-market dengan pemilihan parameter tahun 1995 sampai tahun 1998.



Selasa, 10 September 2013

Perjalanan Porto Berkshire Hathaway 2008-2012

Daftar investment yang dipegang Berkshire Hathaway dengan nilai di atas 1 milyar dollar yang dibeli dari market (bukan akuisisi langsung) :

2008


Highlight kuning adalah posisi floating loss. Pada tahun 2008 ini terlihat cukup banyak posisi floating loss. Floating loss adalah lost yang belum terjadi karena tidak dijual (net loss). Dari detail report Berkshire, pada 2008 angka cashflow dari bisnis sekuritas rendah namun lebih banyak arus keluar karena membeli.


2009


Pada 2009, posisi floating loss sudah berkurang. Dan juga terjadi pengurangan posisi di Conoco Phillips dan Johnson and Johnson. Dari report, Berkshire memilih menjual untuk memberi ruang mendapatkan cash guna pembelian investment lain. Posisi investasi di Sanofi Aventis dan Tesco PLC naik. Arus kas pada tahun 2009 lebih banyak pada posisi beli daripada jual. Dalam pengantarnya Buffet menyatakan 2 tahun terakhir adalah periode dimana investor harusnya membeli untuk dihold 1 - 2 dekade ke depan.




2010

Di tahun 2010, kondisi porto investment Berkshire makin membaik. Dari arus kas, positioning pembelian mulai berkurang di banding 2009.



2012


Langsung ke tahun 2012, nampak porto Berkshire makin bagus.

Sebenarnya dari cerita di atas, ada banyak hal yang bisa dipelajari.
Bottom line-nya "Tidak ada yg tahu masa depan" dan "Borobudur tidak dibangun dalam semalam". Berkshire bukan yang terbaik dalam memberikan imbal balik, tapi dari konsistensi selama sekian lama, tak banyak yang bisa setangguh Berkshire....
Tapi, tentu banyak argumen dan pendapat ttg style investasi/trading sehingga model Bershire mungkin dianggap tidak macho...Semua kembali ke preference dan kenyamanan masing-masing.


Menutup alur di atas, berikut adalah chart Conoco Phillips pada periode 2008-2012 dimana kisah di atas terjadi




Senin, 12 Agustus 2013

Nilai Penyusutan atau Depresiasi

Sebagai contoh adalah penjelasan KLBF LK Q2 2013 hal 61. Tertulis bahwa total nilai penyusutan Q2 2013 adalah 119M. Nilai penyusutan ini didistribusikan kedalam beban pabrikasi 48M, beban penjualan 41M, beban umum dan administrasi 26M dan beban penelitian dan pengembangan 2M.



Pertanyaan saya adalah apa fungsinya perusahaan membuat alokasi nilai penyusutan ?


Apakah perusahaan bisa memainkan nilai penyusutan dalam suatu LK, sehingga hasil akhir LK sengaja dibuat rugi atau untung semau perusahaan?

Senin, 15 Juli 2013

Fakta Lalu


  • Sedikit fakta pada waktu BBM naik di akhir tahun 2005 sebesar 80%, BI rate dinaikkan dari 8.75% sampai maksimal 12.75% sebanyak 4x sampai Desember, kalau ga salah CPI naik sampai 18% YoY, dan sepanjang 2006 itu kenaikan rata2 CPI YoY sebesar 14%, namun yang terjadi adalah IHSG sepanjang 2006 membukukan kenaikan 55%, yang artinya saham sendiri bisa rally 50-100%, yang sudah dikurangi dgn selipan koreksi besar May-June 2006 seperti biasa sebesar 11%.
  • Kenaikan BI Rate di 2008 dari 8% ke 9,25%, dan Rp pun merosot tajam dari Rp 9.051 ke Rp 12.400 per dolar AS.
  • Indeks saham pada tahun 2008 anjlok dari 2.830 ke 1.111, atau merosot tajam 61%

Apa itu LTV - Loan to Value

nilai apraisal1,000,000,000.00
dp 30%300,000,000.00
sisa700,000,000.00
ltv70%

LTV = (Nilai Pinjaman yang Diajukan : Nilai Agunan Hasil Appraisal) x 100 %

Semakin rendah nilai LTV, maka akan semakin bagus bagi banK karena resikonya semakin rendah. 

Berikut nilai LTV maksimal perkiraan umum yang berlaku pada bank di Indonesia, 
Rumah : 80 %
Apartemen & Ruko : 70 %
Tanah : 70 %

Jadi untuk contoh di atas, biasanya pihak bank menawarkan untuk mengambil top-up 10% (nilai maksimal LTV untuk rumah 80% - LTV 70%).

Mengapa Sir Isaac Newton Gagal Di Saham

Sudah terlalu banyak bukti bahwa kecerdasan intelektual saja tidak cukup membuat seorang investor saham menjadi lebih pakar. Pada Tahun 1998, Long Term Capital Managemen L.P., sebuah perusahaan hedge fund yang dikelola oleh sepasukan ahli matematika, ilmuwan komputer, dan dua ekonom pemegang hadiah nobel, dengan tertunduk kehilangan lebih dari  2 miliar dollar dalam hitungan minggu pada sebuah pertarungan besar bahwa pasar obligasi akan segera kembali normal. Namun, pasar obligasi terus-menerus menjadi semakin dan semakin abnormal dan LCTM telah berhutang begitu besar sehingga kejatuhannya hampir menjungkirbalikkan sistem keuangan global. 

Contoh nyata berikutnya, ketika musim semi  tahun 1720, Sir Isaac Newton memiliki saham South Sea Company, saham yang paling hot di Inggris pada masa itu. Begitu melihat gejala pasar mulai tidak terkendali, sang ilmuan besar itu berkata bahwa ia "bisa menghitung gerakan benda-benda langit, tetapi ia tidak bisa mengalkulasi kegilaan orang". Newton memilih melepas saham South Sea-nya dan mendulang cuan 100%, yaitu sebesar 7.000 pound sterling. Namun hanya dalam beberapa bulan kemudian, sang mastro tersebut tergoda dan terhanyut oleh arus deras euforia pasar, Isaac Newton terjun kembali ke dalam pasar ketika harga sudah jauh lebih tinggi. Dan rugi 20.000 pound sterling. 

Sampai akhir hidupnya, ia melarang siapapun untuk menyebut kata "South Sea" di dekatnya [kedangkalan kecerdasan emosional tampak nyata di sini, sahammya yang disalahkan]. Sir Isaac Newton adalah salah satu orang jenius yang pernah  hidup di muka bumi, sebagaimana definisi kejeniusan menurut sebagian besar dari kita. Namun dalam pengertian Benjamin Graham, Newton sama sekali tidak mendekati cerdas, apalagi jenius sebagai investor. Dengan membiarkan hirukpikuk pasar menunggangi penilaiannya sendiri, ilmuan besar tersebut bertindak layaknya seorang spekulan saham dan sangat oportunitik.

Singkatnya, jika kita gagal berinvestasi di pasar saham sampai saat ini, itu bukan karena kita kurang cerdas. Seperti Sir Isaac Newton, lebih dikarenakan belum memiliki bangunan fundamental investasi yang baik dan belum mempunyai pemahaman yang baik tentang pasar beserta segala perilakunya. Jadi, perlu secara serius membangun kecerdasan rasio-emosional dan menolak untuk mengikuti level keliaran pasar. Dan pada akhirnya kita akan disadarkan oleh sebuah kenyataan, bahwa menjadi InvestorPemenang adalah persoalan kecerdasan nalar dan emosional, bukan kecerdasan intelektual dan penguasaan segudang teori analisis. Seorang pemenang membangun dari fondasi bukan dari kerangka.


Referensi : 
- The Intelligent Investor
- Secrets of Millionaires Investors


Sumber :
http://sahampemenang.blogspot.com/2012/09/mengapa-isaac-newton-gagal-di-saham.html