Senin, 15 Juli 2013

Fakta Lalu


  • Sedikit fakta pada waktu BBM naik di akhir tahun 2005 sebesar 80%, BI rate dinaikkan dari 8.75% sampai maksimal 12.75% sebanyak 4x sampai Desember, kalau ga salah CPI naik sampai 18% YoY, dan sepanjang 2006 itu kenaikan rata2 CPI YoY sebesar 14%, namun yang terjadi adalah IHSG sepanjang 2006 membukukan kenaikan 55%, yang artinya saham sendiri bisa rally 50-100%, yang sudah dikurangi dgn selipan koreksi besar May-June 2006 seperti biasa sebesar 11%.
  • Kenaikan BI Rate di 2008 dari 8% ke 9,25%, dan Rp pun merosot tajam dari Rp 9.051 ke Rp 12.400 per dolar AS.
  • Indeks saham pada tahun 2008 anjlok dari 2.830 ke 1.111, atau merosot tajam 61%

Apa itu LTV - Loan to Value

nilai apraisal1,000,000,000.00
dp 30%300,000,000.00
sisa700,000,000.00
ltv70%

LTV = (Nilai Pinjaman yang Diajukan : Nilai Agunan Hasil Appraisal) x 100 %

Semakin rendah nilai LTV, maka akan semakin bagus bagi banK karena resikonya semakin rendah. 

Berikut nilai LTV maksimal perkiraan umum yang berlaku pada bank di Indonesia, 
Rumah : 80 %
Apartemen & Ruko : 70 %
Tanah : 70 %

Jadi untuk contoh di atas, biasanya pihak bank menawarkan untuk mengambil top-up 10% (nilai maksimal LTV untuk rumah 80% - LTV 70%).

Mengapa Sir Isaac Newton Gagal Di Saham

Sudah terlalu banyak bukti bahwa kecerdasan intelektual saja tidak cukup membuat seorang investor saham menjadi lebih pakar. Pada Tahun 1998, Long Term Capital Managemen L.P., sebuah perusahaan hedge fund yang dikelola oleh sepasukan ahli matematika, ilmuwan komputer, dan dua ekonom pemegang hadiah nobel, dengan tertunduk kehilangan lebih dari  2 miliar dollar dalam hitungan minggu pada sebuah pertarungan besar bahwa pasar obligasi akan segera kembali normal. Namun, pasar obligasi terus-menerus menjadi semakin dan semakin abnormal dan LCTM telah berhutang begitu besar sehingga kejatuhannya hampir menjungkirbalikkan sistem keuangan global. 

Contoh nyata berikutnya, ketika musim semi  tahun 1720, Sir Isaac Newton memiliki saham South Sea Company, saham yang paling hot di Inggris pada masa itu. Begitu melihat gejala pasar mulai tidak terkendali, sang ilmuan besar itu berkata bahwa ia "bisa menghitung gerakan benda-benda langit, tetapi ia tidak bisa mengalkulasi kegilaan orang". Newton memilih melepas saham South Sea-nya dan mendulang cuan 100%, yaitu sebesar 7.000 pound sterling. Namun hanya dalam beberapa bulan kemudian, sang mastro tersebut tergoda dan terhanyut oleh arus deras euforia pasar, Isaac Newton terjun kembali ke dalam pasar ketika harga sudah jauh lebih tinggi. Dan rugi 20.000 pound sterling. 

Sampai akhir hidupnya, ia melarang siapapun untuk menyebut kata "South Sea" di dekatnya [kedangkalan kecerdasan emosional tampak nyata di sini, sahammya yang disalahkan]. Sir Isaac Newton adalah salah satu orang jenius yang pernah  hidup di muka bumi, sebagaimana definisi kejeniusan menurut sebagian besar dari kita. Namun dalam pengertian Benjamin Graham, Newton sama sekali tidak mendekati cerdas, apalagi jenius sebagai investor. Dengan membiarkan hirukpikuk pasar menunggangi penilaiannya sendiri, ilmuan besar tersebut bertindak layaknya seorang spekulan saham dan sangat oportunitik.

Singkatnya, jika kita gagal berinvestasi di pasar saham sampai saat ini, itu bukan karena kita kurang cerdas. Seperti Sir Isaac Newton, lebih dikarenakan belum memiliki bangunan fundamental investasi yang baik dan belum mempunyai pemahaman yang baik tentang pasar beserta segala perilakunya. Jadi, perlu secara serius membangun kecerdasan rasio-emosional dan menolak untuk mengikuti level keliaran pasar. Dan pada akhirnya kita akan disadarkan oleh sebuah kenyataan, bahwa menjadi InvestorPemenang adalah persoalan kecerdasan nalar dan emosional, bukan kecerdasan intelektual dan penguasaan segudang teori analisis. Seorang pemenang membangun dari fondasi bukan dari kerangka.


Referensi : 
- The Intelligent Investor
- Secrets of Millionaires Investors


Sumber :
http://sahampemenang.blogspot.com/2012/09/mengapa-isaac-newton-gagal-di-saham.html

Jumat, 05 Juli 2013

Kaya Tidak Harus Mewah

Warren Buffett mempunyai kehidupan yang beruntung. Itu diakuinya sendiri. Ia mengaku beruntung lahir di negeri Amerika Serikat, negeri yang menunjukkan kemakmuran sangat pesat dalam 10 dekade terakhir. Buffett juga mengaku beruntung lahir di sebuah keluarga, yang kebetulan menawarkan banyak peluang, sehingga akhirnya ia bisa menjalani sebuah kehidupan sebagai investor.

Tapi kehidupan itu tidak melulu karena keberuntungan. Buffett adalah pekerja keras sejak kecil. Pekerja yang sangat keras.
Sangat keras, bahkan hingga sekarang. Buffett juga seorang yang disiplin dalam keuangan, kalau tidak mau dibilang pelit.
Mungkin istilah bersahaja adalah pilihan yang lebih tepat. Ia selalu menganggap segala bentuk pengeluaran harus sepadan dengan hilangnya peluang investasi. Buffett adalah orang yang selalu mencari peluang bisnis, baik dari mengantar koran, dan berpartner dgn temannya memperbaiki mesin pinball.

Dari usahanya sejak kecil itu, ia menghasilkan uang yang cukup banyak untuk anak sesuainya, dan jangan heran Buffett sudah mulai membeli saham pertamanya sejak usia 11 tahun. Dia juga sudah melaporkan pajak pertamanya pada umur 14 tahun, atas keuntungannya sebesar $1000 hasil usaha loper korannya. Itulah Buffett. Seorang yang sangat terobsesi untuk mengkoleksi dan meningkat koleksinya tanpa punya kesenangan untuk menghabiskan hartanya itu.

Tapi Buffett tidak pelit dalam arti itu semua, ia mendedikasikan hampir seluruh harta kekayaannya yang senilai US$30,7 miliar (IDR 300 triliun)  kepada Gates Foundation. Jumlah sumbangan amal Buffett tercatat sebagai sumbangan terbesar dalam sejarah Amerika...

Kisah Buffett seperti cerita dalam film, tapi itulah kisah yang kita dengar. Dengan segala sepak terjangnya, ia akhirnya dikenal sebagai orang yang mampu mengatur uang. Pada usia 26 tahun ia menjalankan sebuah partnership, yaitu mengatur dana titipan dari keluarga, tetangga dan teman untuk diinvestasikan di pasar modal. Dananya saat itu sebesar $174.000. Partnership ini terbukti sukses.

Pada 1962 saja kekayaan bersih Buffett sudah melampaui 1 juta dolar. Pada 1966 ketika Buffett merasa sudah tidak ada peluang mencari saham-saham bagus, ia merasa tidak bagus meneruskan partnership ini. Saat partnership itu ditutup Buffett mulai fokus mengelola perusahaan tekstil yang mulai mengalami kemunduran bernama Berkshire Hathaway. Kisah hidupnya setelah di Berskhire bisa kita baca hingga sekarang, dengan kekayaan bersih sebesar US$53.5 milyar setara dgn IDR 532 triliun (2013).

Pelajaran penting dari pola hidup yang dilakukan oleh Warren buffet ini memang jarang dilakukan oleh orang yang punya kekayaan dalam jumlah besar. Yang sering ditemui adalah orang-orang yang punya kekayaan sedikit langsung gaya hidupnya berubah.
Dan para orang tua yang kaya ini juga menurunkan hal yang tidak baik pada anak mereka. Dengan memberi fasilitas wah sehingga menjadikan anak mereka manja dan tidak bisa menghargai uang....
Jadi apakah rekan-rekan sependapat dengan pola hidup yang dijalankan oleh Warren buffet ini?

sumber milis J-Trader - YAG