Rabu, 31 Oktober 2012
Sekilas Tentang FA dan TA
Yang namanya analisa perkiraan itu pada dasarnya adalah analisa tebak2an. Apakah TA ataukah FA, semuanya pada dasarnya adalah tebak2an belaka alias ilmu kira-kira :) Hanya saja FA dibungkus seolah2 ilmiah dan TA kurang ilmiah. :)
Di dalam FA, biasanya dibuat asumsi2 terlebih dahulu, barulah dihitung. Nah, asumsi2 ini untuk setiap orang/analis bisa berbeda2. Itu sebabnya, lapkeu yang sama di satu saham bisa menghasilkan angka teoritis yang berbeda. Bisa saja satu analis keluar rekomendasi BUY, bisa saja analis yang lain mengeluarkan rekomendasi SELL, walaupun sama2 menggunakan FA. :)
Jadi, mau pakai teknik FA apapun sebenarnya bisa saja tidak akan pernah cocok kalau asumsi yang digunakan berbeda. Tidak harus perusahaan komoditas, bahkan consumer goods pun juga bisa tidak cocok bila pakai cara yang dilakukan oleh Pak Wibowo. Misalkan saja, MAPI. Perkiraan2 yang ada dan dibuat sekarang rata2 berdasarkan asumsi di Indonesia tidak terjadi krisis ekonomi. Nah, kalau terjadi krisis ekonomi, bahkan berkepanjangan, maka omzet MAPI bisa anjlog karena daya beli masyarakat menurun. Target penjualan tidak tercapai, maka manajemen harus mengurangi pembelian barang untuk dijual. Dst...dst...dst.
Bottom line nya saya hanya ingin menggaris bawahi bahwa dibalik FA itu ada asumsi2 yang mendasarinya dimana bila asumsi2 yang digunakan tidak terpenuhi, maka otomatis perhitungan FA nya juga menjadi berubah.
Demikian juga di perusahaan komoditas. FA dibuat berdasarkan asumsi harga tertentu atau perkiraan harga di masa-masa mendatang. Bila ternyata kedepannya harga komoditasnya berubah sehingga berbeda dengan asumsi yang digunakan, maka perlu dihitung ulang FA nya. Itu sebabnya, harga saham komoditas bisa naik turun karena adanya perubahaan ekspektasi di masa mendatang.
Jadi dalam kasus ini, saya tidak melihat perlunya perhitungan2 option maupun Black-Scholes :)
Satu hal lagi, hasil hitungan FA sebenarnya lebih tepat disebut dengan harga teoritis.
Sayangnya, banyak analis FA dalam laporannya menggunakan istilah target price. Padahal harga pasar tidak memiliki kewajiban ataupun keharusan menuju angka teoritis hasil hitungan FA. Itu sebabnya, banyak orang awam jadi terjebak dan kecewa atau bertanya, kenapa koq target price nya tidak tercapai padahal sudah 12 bulan berjalan. Jadi sebenarnya, analis2 FA yang suka menggunakan istilah target price, mereka sebenarnya sedang menggali lubang kuburnya sendiri karena berusaha menjadi dukun saham dengan menggunakan FA. :)
FA dan TA keduanya pada dasarnya adalah ilmu kira-kira, ilmu tebak2an. :)
jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu
@
Valuasi Emiten Property
Emiten property itu ada banyak jenisnya. Ada yang fokus di property
untuk wilayah industri, ada yang fokus di property untuk perumahan,
ada yang fokus di property untuk apartemen maupun perkantoran. Masing2
memiliki karateristik yang berbeda.
Yang perlu dicatat, harga tanah (land bank) yang dicatat di neraca itu
adalah harga historicalnya. Harga masa lalu. Kita tahu bahwa
belakangan ini harga tanah naik tajam untuk wilayah tertentu. Jadi,
perlu dilihat harga perolehan tanah atau yang dicatat di neraca itu
berdasarkan harga tahun berapa. Dan waktu itu apakah dicatatnya dengan
harga pasar/wajar ataukah dengan harga mark up. Perlu diketahui, ada
saya dengar (dari orang2 yg memang bidangnya property), bahwa suka ada
yang nakal soal transaksi pembelian lahan ini. Ditampungi dulu lahan
yg akan dibeli oleh emiten dengan memakai perusahaan/orang tertentu,
lalu setelah itu baru dijual ke perusahaan dengan harga yang sudah di
mark up.
Jadi, saya lebih menyarankan untuk menghitung valuasi perusahaan yg
bergerak di bidang property, pelajari dulu emitennya fokus di yang
mana, lalu pencatatan di neraca seperti apa, prospek lahan yg masih
tersisa seperti apa dan kira2 berapa nilainya, dst...dst...dst.
Repot? Ya iyalah repot, namanya juga analisa fundamental, harus siap
repot kalau mau dapat valuasi yang lebih mencerminkan. Hasilnya pun
sepadan kalau setelah dihitung, ternyata harga sahamnya di pasar jauh
lebih murah dibanding dengan potensi yg dimiliki dalam 2-3 tahun
mendatang (misalkan). Kalau ngga ketemu juga, ya anggap saja apes.
Kalau ngga mau repot, ya pakai grafik sajalah, jadi ujung2nya trading
lagi...trading lagi. :)
Kalau mau investasi yang ngga repot hitung2annya, ya di banking.
Karena di banking khususnya yang sudah puluhan tahun berdiri, jauh
lebih gampang ngitungnya. :)
jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu
@saham@yahoogroups.com
untuk wilayah industri, ada yang fokus di property untuk perumahan,
ada yang fokus di property untuk apartemen maupun perkantoran. Masing2
memiliki karateristik yang berbeda.
Yang perlu dicatat, harga tanah (land bank) yang dicatat di neraca itu
adalah harga historicalnya. Harga masa lalu. Kita tahu bahwa
belakangan ini harga tanah naik tajam untuk wilayah tertentu. Jadi,
perlu dilihat harga perolehan tanah atau yang dicatat di neraca itu
berdasarkan harga tahun berapa. Dan waktu itu apakah dicatatnya dengan
harga pasar/wajar ataukah dengan harga mark up. Perlu diketahui, ada
saya dengar (dari orang2 yg memang bidangnya property), bahwa suka ada
yang nakal soal transaksi pembelian lahan ini. Ditampungi dulu lahan
yg akan dibeli oleh emiten dengan memakai perusahaan/orang tertentu,
lalu setelah itu baru dijual ke perusahaan dengan harga yang sudah di
mark up.
Jadi, saya lebih menyarankan untuk menghitung valuasi perusahaan yg
bergerak di bidang property, pelajari dulu emitennya fokus di yang
mana, lalu pencatatan di neraca seperti apa, prospek lahan yg masih
tersisa seperti apa dan kira2 berapa nilainya, dst...dst...dst.
Repot? Ya iyalah repot, namanya juga analisa fundamental, harus siap
repot kalau mau dapat valuasi yang lebih mencerminkan. Hasilnya pun
sepadan kalau setelah dihitung, ternyata harga sahamnya di pasar jauh
lebih murah dibanding dengan potensi yg dimiliki dalam 2-3 tahun
mendatang (misalkan). Kalau ngga ketemu juga, ya anggap saja apes.
Kalau ngga mau repot, ya pakai grafik sajalah, jadi ujung2nya trading
lagi...trading lagi. :)
Kalau mau investasi yang ngga repot hitung2annya, ya di banking.
Karena di banking khususnya yang sudah puluhan tahun berdiri, jauh
lebih gampang ngitungnya. :)
jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu
@saham@yahoogroups.com
Catatan Valuasi UNVR
Berdasarkan data di reuters, beta untuk ASII 1,36, beta untuk UNVR 0,14.
Urusan angka beta tidak ada kaitannya dengan angka PE. :)
Untuk menghitung valuasi UNVR, hati2, jangan mengandalkan angka PER,
karena nanti bisa terjebak seolah2 sudah kemahalan.
catatan: saya belum menghitung valuasi untuk UNVR.
Ada yg kasih masukan untuk valuasi UNVR, hitung dengan teknik DDM
(Dividend Discount Model).
UNVR rajin bagi dividen. Dividend Payout Ratio nya hampir 100% dari
laba yg dihasilkan. Walau bagi dividen besar, dia juga masih ada
growth yg bagus. Makanya, pakai DDM lebih cocok hitung valuasinya
ketimbang pakai PER.
UNVR beda dengan ASII. Sektornya berbeda, sehingga menghitung valuasi
serta asumsi2nya pun juga jadi berbeda.
ASII punya anak perusahaan di sektor CPO dan batubara yang belakangan
ini lagi tidak bagus. Selain juga memang sifatnya sangat volatile dan
tergantung pada harga internasional. Sehingga ketika membuat
perhitungan, ada banyak hal yang harus diperhitungkan.
jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu
@saham@yahoogroups.com
Jangan Pakai PBV Untuk Valuasi Tambang
Saran saya, kalau mau melihat suatu perusahaan/saham tambang (termasuk
batubara) itu mahal atau tidaknya, jangan melihat angka PBV nya,
karena angka ini bisa menyesatkan. Lebih baik lihat cadangan terukur
dari potensi lahan tambangnya yang ada.
Saya ambil contoh ekstrimnya bagaimana angka tersebut bisa
menyesatkan. Kalau saya memperoleh lahan tambang katakan seluas 1000
dengan perkiraan cadangan 100, lalu saya catat harga perolehannya di
tahun xxxx senilai Rp100 (saya pakai nilai wajar karena jujur), akan
berbeda bila saya mencatatatnya dengan nilai Rp1000 (saya markup
habis2an).
Yang saya catat dengan nilai Rp100, maka PBV perusahaan saya akan
terlihat tinggi.
Yang saya catat dengan nilai Rp1000, maka PBV perusahaan saya akan
terlihat rendah.
Jadi, berhati2lah bila mau pakai angka PBV untuk perusahaan tambang,
karena bisa menyesatkan dan tidak apple to apple untuk membandingkan
dengan perusahaan sejenis pun (katakan saja di sektor batubara).
Kalau untuk perbankan, baru bolehlah dlihat PBV nya, karena aset utama
perbankan itu sifatnya lebih standar antara angka pencatatan dan
nilainya cenderung sama karena bentuknya uang, :)
Sekedar masukan saja dan semoga bermanfaat.
jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu
@saham@yahoogroups.com
Rabu, 10 Oktober 2012
Saham = Bisnis
Ringkasan ini tidak tersedia. Harap
klik di sini untuk melihat postingan.
Langganan:
Komentar (Atom)