Kamis, 13 Desember 2012
Selasa, 04 Desember 2012
Ratio PER
Untuk menggunakan PER yang paling efektif itu adalah menghitung dan mengambil patokan average PER 5 tahun terakhir sehingga didapat highest/lowest PER, dan juga proyeksi pendapatan di tahun-tahun mendatang dengan berdasarkan berita sekarang maupun hasil historikal.
Jadi forward PE juga bisa diketahui. Data tersebut dicombine dan dicompare juga dengan current PER. Jadi intinya, past-present-future harus dilihat dengan tentunya yang paling penting adalah future karena harga saham bergerak berdasarkan future, bukan past maupun present.
Setelah ada data itu, baru kita gunakan PEG agar bisa tahu harga sekarang undervalue, fair ataupun overvalue. Kemudian lakukan screening juga dengan BV, ROE, NPM, DER, dll.
Terkadang permasalahnnya untuk mengetahui forward PE itu tidak mudah. Oleh karena itu, banyak saham yang terlihat current PER tinggi namun bisa naik terus (selain ada indikasi digoreng), bisa saja forward PE-nya rendah karena proyeksi pendapatan katakan di 3-4 tahun mendatang bisa naik 500-1000%.
Kesimpulannya, current PER saja kurang bisa dijadikan patokan.
Contoh INDY, current PER skrg 4.6x, siapa tahu tahun depan dgn laba yg turun dalam ternyata forward PE adalah 10-15x which is quite fair / expensive makanya harga cenderung turun dan ga bisa naik
Misalnya AISA, current PER katakan 13x, namun dgn kenaikan laba 60% saja di tahun depan, forward PER adalah 8x saja, dan bagaimana kalau masih naik 100%, maka forward PE adalah 6.5x, which is cheap, dan makanya kuat utk nanjak terus.
Jumat, 09 November 2012
Valuasi dan Strategi
Valuasi merupakan cara atau metode, untuk menghitung harga wajar teoretis dari suatu aset, misalnya saham. Apabila harga pasar berada di bawah harga teoretisnya, maka saham dikatakan dalam kondisi undervalue, dan direkomendasikan untuk beli. Saham yang overvalue, direkomendasikan untuk jual.
Namun mengapa harga suatu saham dapat berada dalam kondisi yang secara valuasi undervalue ataupun overvalue dalam waktu yang cukup lama? Apakah karena pasar tidak efisien?
Problemnya adalah, dalam pasar yang efisien sempurna, tidak ada insentif bagi pelaku pasar untuk melakukan jual atau beli, karena harga saat ini sudah berada dalam kesetimbangan dan harga ke depan benar-benar tidak diketahui. Apabila ada suatu berita positif, harga akan menyesuaikan seketika, sehingga tidak ada kesempatan untuk memperoleh profit.
Tetapi pelaku pasar perlu untuk profit, kalau tidak pernah profit akan quit. Sehingga diperlukan strategi.
Valuasi dapat dijadikan dasar dari strategi, seperti membeli saham-saham yang undervalue, dan menjual saat overvalue.
Tetapi apabila strategi tersebut menjadi pengetahuan pasar, maka pasar akan kembali efisien dan tidak dimungkinkan untuk mengeksploitasi strategi tersebut kembali, dan diperlukan strategi lain. Sehingga, valuasi tidak selalu menjadi patokan kesetimbangan bagi strategi, karena pelaku pasar banyak yang mengetahui strategi ini, sehingga dampaknya sudah priced-in.
Maka dalam pasar yang berada dalam kesetimbangan secara valuasi, diperlukan strategi lain. Setiap pelaku pasar memiliki strategi unggulannya masing-masing, dan suatu strategi, tidak akan tetap bertahan terus untuk menghasilkan keuntungan, karena informasi yang terus tersebar. Pasar akan menjadi medan pertarungan bagi strategi-strategi tersebut, dan akhirnya strategi yang adaptif yang akan bertahan.
BK Wibowo
@saham@yahoogroups.com
Rabu, 31 Oktober 2012
Sekilas Tentang FA dan TA
Yang namanya analisa perkiraan itu pada dasarnya adalah analisa tebak2an. Apakah TA ataukah FA, semuanya pada dasarnya adalah tebak2an belaka alias ilmu kira-kira :) Hanya saja FA dibungkus seolah2 ilmiah dan TA kurang ilmiah. :)
Di dalam FA, biasanya dibuat asumsi2 terlebih dahulu, barulah dihitung. Nah, asumsi2 ini untuk setiap orang/analis bisa berbeda2. Itu sebabnya, lapkeu yang sama di satu saham bisa menghasilkan angka teoritis yang berbeda. Bisa saja satu analis keluar rekomendasi BUY, bisa saja analis yang lain mengeluarkan rekomendasi SELL, walaupun sama2 menggunakan FA. :)
Jadi, mau pakai teknik FA apapun sebenarnya bisa saja tidak akan pernah cocok kalau asumsi yang digunakan berbeda. Tidak harus perusahaan komoditas, bahkan consumer goods pun juga bisa tidak cocok bila pakai cara yang dilakukan oleh Pak Wibowo. Misalkan saja, MAPI. Perkiraan2 yang ada dan dibuat sekarang rata2 berdasarkan asumsi di Indonesia tidak terjadi krisis ekonomi. Nah, kalau terjadi krisis ekonomi, bahkan berkepanjangan, maka omzet MAPI bisa anjlog karena daya beli masyarakat menurun. Target penjualan tidak tercapai, maka manajemen harus mengurangi pembelian barang untuk dijual. Dst...dst...dst.
Bottom line nya saya hanya ingin menggaris bawahi bahwa dibalik FA itu ada asumsi2 yang mendasarinya dimana bila asumsi2 yang digunakan tidak terpenuhi, maka otomatis perhitungan FA nya juga menjadi berubah.
Demikian juga di perusahaan komoditas. FA dibuat berdasarkan asumsi harga tertentu atau perkiraan harga di masa-masa mendatang. Bila ternyata kedepannya harga komoditasnya berubah sehingga berbeda dengan asumsi yang digunakan, maka perlu dihitung ulang FA nya. Itu sebabnya, harga saham komoditas bisa naik turun karena adanya perubahaan ekspektasi di masa mendatang.
Jadi dalam kasus ini, saya tidak melihat perlunya perhitungan2 option maupun Black-Scholes :)
Satu hal lagi, hasil hitungan FA sebenarnya lebih tepat disebut dengan harga teoritis.
Sayangnya, banyak analis FA dalam laporannya menggunakan istilah target price. Padahal harga pasar tidak memiliki kewajiban ataupun keharusan menuju angka teoritis hasil hitungan FA. Itu sebabnya, banyak orang awam jadi terjebak dan kecewa atau bertanya, kenapa koq target price nya tidak tercapai padahal sudah 12 bulan berjalan. Jadi sebenarnya, analis2 FA yang suka menggunakan istilah target price, mereka sebenarnya sedang menggali lubang kuburnya sendiri karena berusaha menjadi dukun saham dengan menggunakan FA. :)
FA dan TA keduanya pada dasarnya adalah ilmu kira-kira, ilmu tebak2an. :)
jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu
@saham@yahoogroups.com
Valuasi Emiten Property
Emiten property itu ada banyak jenisnya. Ada yang fokus di property
untuk wilayah industri, ada yang fokus di property untuk perumahan,
ada yang fokus di property untuk apartemen maupun perkantoran. Masing2
memiliki karateristik yang berbeda.
Yang perlu dicatat, harga tanah (land bank) yang dicatat di neraca itu
adalah harga historicalnya. Harga masa lalu. Kita tahu bahwa
belakangan ini harga tanah naik tajam untuk wilayah tertentu. Jadi,
perlu dilihat harga perolehan tanah atau yang dicatat di neraca itu
berdasarkan harga tahun berapa. Dan waktu itu apakah dicatatnya dengan
harga pasar/wajar ataukah dengan harga mark up. Perlu diketahui, ada
saya dengar (dari orang2 yg memang bidangnya property), bahwa suka ada
yang nakal soal transaksi pembelian lahan ini. Ditampungi dulu lahan
yg akan dibeli oleh emiten dengan memakai perusahaan/orang tertentu,
lalu setelah itu baru dijual ke perusahaan dengan harga yang sudah di
mark up.
Jadi, saya lebih menyarankan untuk menghitung valuasi perusahaan yg
bergerak di bidang property, pelajari dulu emitennya fokus di yang
mana, lalu pencatatan di neraca seperti apa, prospek lahan yg masih
tersisa seperti apa dan kira2 berapa nilainya, dst...dst...dst.
Repot? Ya iyalah repot, namanya juga analisa fundamental, harus siap
repot kalau mau dapat valuasi yang lebih mencerminkan. Hasilnya pun
sepadan kalau setelah dihitung, ternyata harga sahamnya di pasar jauh
lebih murah dibanding dengan potensi yg dimiliki dalam 2-3 tahun
mendatang (misalkan). Kalau ngga ketemu juga, ya anggap saja apes.
Kalau ngga mau repot, ya pakai grafik sajalah, jadi ujung2nya trading
lagi...trading lagi. :)
Kalau mau investasi yang ngga repot hitung2annya, ya di banking.
Karena di banking khususnya yang sudah puluhan tahun berdiri, jauh
lebih gampang ngitungnya. :)
jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu
@saham@yahoogroups.com
untuk wilayah industri, ada yang fokus di property untuk perumahan,
ada yang fokus di property untuk apartemen maupun perkantoran. Masing2
memiliki karateristik yang berbeda.
Yang perlu dicatat, harga tanah (land bank) yang dicatat di neraca itu
adalah harga historicalnya. Harga masa lalu. Kita tahu bahwa
belakangan ini harga tanah naik tajam untuk wilayah tertentu. Jadi,
perlu dilihat harga perolehan tanah atau yang dicatat di neraca itu
berdasarkan harga tahun berapa. Dan waktu itu apakah dicatatnya dengan
harga pasar/wajar ataukah dengan harga mark up. Perlu diketahui, ada
saya dengar (dari orang2 yg memang bidangnya property), bahwa suka ada
yang nakal soal transaksi pembelian lahan ini. Ditampungi dulu lahan
yg akan dibeli oleh emiten dengan memakai perusahaan/orang tertentu,
lalu setelah itu baru dijual ke perusahaan dengan harga yang sudah di
mark up.
Jadi, saya lebih menyarankan untuk menghitung valuasi perusahaan yg
bergerak di bidang property, pelajari dulu emitennya fokus di yang
mana, lalu pencatatan di neraca seperti apa, prospek lahan yg masih
tersisa seperti apa dan kira2 berapa nilainya, dst...dst...dst.
Repot? Ya iyalah repot, namanya juga analisa fundamental, harus siap
repot kalau mau dapat valuasi yang lebih mencerminkan. Hasilnya pun
sepadan kalau setelah dihitung, ternyata harga sahamnya di pasar jauh
lebih murah dibanding dengan potensi yg dimiliki dalam 2-3 tahun
mendatang (misalkan). Kalau ngga ketemu juga, ya anggap saja apes.
Kalau ngga mau repot, ya pakai grafik sajalah, jadi ujung2nya trading
lagi...trading lagi. :)
Kalau mau investasi yang ngga repot hitung2annya, ya di banking.
Karena di banking khususnya yang sudah puluhan tahun berdiri, jauh
lebih gampang ngitungnya. :)
jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu
@saham@yahoogroups.com
Catatan Valuasi UNVR
Berdasarkan data di reuters, beta untuk ASII 1,36, beta untuk UNVR 0,14.
Urusan angka beta tidak ada kaitannya dengan angka PE. :)
Untuk menghitung valuasi UNVR, hati2, jangan mengandalkan angka PER,
karena nanti bisa terjebak seolah2 sudah kemahalan.
catatan: saya belum menghitung valuasi untuk UNVR.
Ada yg kasih masukan untuk valuasi UNVR, hitung dengan teknik DDM
(Dividend Discount Model).
UNVR rajin bagi dividen. Dividend Payout Ratio nya hampir 100% dari
laba yg dihasilkan. Walau bagi dividen besar, dia juga masih ada
growth yg bagus. Makanya, pakai DDM lebih cocok hitung valuasinya
ketimbang pakai PER.
UNVR beda dengan ASII. Sektornya berbeda, sehingga menghitung valuasi
serta asumsi2nya pun juga jadi berbeda.
ASII punya anak perusahaan di sektor CPO dan batubara yang belakangan
ini lagi tidak bagus. Selain juga memang sifatnya sangat volatile dan
tergantung pada harga internasional. Sehingga ketika membuat
perhitungan, ada banyak hal yang harus diperhitungkan.
jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu
@saham@yahoogroups.com
Jangan Pakai PBV Untuk Valuasi Tambang
Saran saya, kalau mau melihat suatu perusahaan/saham tambang (termasuk
batubara) itu mahal atau tidaknya, jangan melihat angka PBV nya,
karena angka ini bisa menyesatkan. Lebih baik lihat cadangan terukur
dari potensi lahan tambangnya yang ada.
Saya ambil contoh ekstrimnya bagaimana angka tersebut bisa
menyesatkan. Kalau saya memperoleh lahan tambang katakan seluas 1000
dengan perkiraan cadangan 100, lalu saya catat harga perolehannya di
tahun xxxx senilai Rp100 (saya pakai nilai wajar karena jujur), akan
berbeda bila saya mencatatatnya dengan nilai Rp1000 (saya markup
habis2an).
Yang saya catat dengan nilai Rp100, maka PBV perusahaan saya akan
terlihat tinggi.
Yang saya catat dengan nilai Rp1000, maka PBV perusahaan saya akan
terlihat rendah.
Jadi, berhati2lah bila mau pakai angka PBV untuk perusahaan tambang,
karena bisa menyesatkan dan tidak apple to apple untuk membandingkan
dengan perusahaan sejenis pun (katakan saja di sektor batubara).
Kalau untuk perbankan, baru bolehlah dlihat PBV nya, karena aset utama
perbankan itu sifatnya lebih standar antara angka pencatatan dan
nilainya cenderung sama karena bentuknya uang, :)
Sekedar masukan saja dan semoga bermanfaat.
jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu
@saham@yahoogroups.com
Rabu, 10 Oktober 2012
Saham = Bisnis
Ringkasan ini tidak tersedia. Harap
klik di sini untuk melihat postingan.
Minggu, 23 September 2012
Sun Tzu - The Art of War
If you know the enemy and know yourself, you need not fear the result of a hundred battles.
If you know yourself but not the enemy, for every victory gained you will also suffer a defeat.
If you know neither the enemy nor yourself, you will succumb in every battle.
The good fighters of old first put themselves beyond the possibility of defeat, and then waited for an opportunity of defeating the enemy.
To secure ourselves against defeat lies in our own hands, but the opportunity of defeating the enemy is provided by the enemy himself. Thus the good fighter is able to secure himself against defeat, but cannot make certain of defeating the enemy.
To win one hundred victories in one hundred battles is not the supreme of excellence.
To subdue the enemy without fighting is the supreme excellence.
If you know yourself but not the enemy, for every victory gained you will also suffer a defeat.
If you know neither the enemy nor yourself, you will succumb in every battle.
The good fighters of old first put themselves beyond the possibility of defeat, and then waited for an opportunity of defeating the enemy.
To secure ourselves against defeat lies in our own hands, but the opportunity of defeating the enemy is provided by the enemy himself. Thus the good fighter is able to secure himself against defeat, but cannot make certain of defeating the enemy.
To win one hundred victories in one hundred battles is not the supreme of excellence.
To subdue the enemy without fighting is the supreme excellence.
Kamis, 13 September 2012
Cash Is The King
Keep a Cash Reserve & Be Patient
There are times when playing the stock market that your money should be inactive - waiting on the sidelines in cash - waiting to come into play.
In the stockmarket - time is not money - time is time and money is money.
Often money that is just sitting can later be moved into the right situation at the right time and make a vast fortune – patience – patience.
Patience is the key to success not speed.
Time is a cunning speculator's best friend if he uses it right.
Remember the clever speculator is always patient and has a reserve of cash.
Sabtu, 08 September 2012
Kesadaran Merk
kalau diminta sebutin,
- yang muncul pertama kali = top of mind
- yang masih diingat, tidak harus pertama kali = recall
- tidak ingat, tetapi kalau ditanya, masih tahu = recognition
Maka pilihlah saham yang juga mengikuti konsep kesadaran di atas.
Minggu, 02 September 2012
Beberapa Aspek GCG
- Setiap tahun berapa persen kenaikan 'beban umum dan administrasi' karena ini menyangkut kenaikan salary / komisi / bonus dll yang diterima manajemen. Kalau korelasinya besar terhadap kenaikan sales, berarti itu adalah insentif untuk menggenjot kinerja, kalau sebaliknya, itu seperti 'merampok' shareholder utk memperkaya manejemen sendiri.
- Berapa target yang diset manajemen dan bagaimana dia achieve setiap tahun dan sebaiknya selama 5 tahun terakhir. Semakin tinggi achievement, semakin bagus
- Berapa besar alokasi dari laba untuk kepentingan perbaikan / penambahan kapasitas pabrik dsb utk keperluan peningkatan sales dibanding dgn pindah / upgrade ke kantor yang mewah yang lebih banyak membuang2 uang
- Berapa besar pertumbuhan dividen dari tahun ke tahun, dan apabila dividen tidak dibagi / rasio kecil, alasannya untuk apa. Kalau utk ekspansi, apakah hasilnya kelihatan atau tidak ?
- Apakah manajemen sering mengumbar janji muluk atau melakukan keputusan akuisisi perusahaan yang tidak tepat / terlalu mahal / tidak relevan ?
- Bagaimana dgn handle debt-nya, rasio DER yg selalu rendah tentu jauh lebih baik
Jumat, 31 Agustus 2012
Lima cara berinvestasi seperti Warren Buffett
1. Membeli saham sama dengan membeli bisnis
Jika sebuah bisnis berkinerja bagus, harga sahamnya akan mengikuti.;
Bagaimana mengetahui bisnis yang bagus? Pertama-tama, Anda harus mengerjakan PR, yaitu riset fundamental perusahaan tersebut. Sebab, bagi Buffett, syarat mutlak berinvestasi adalah mengerti bisnisnya dulu. Ia berulang kali menolak berinvestasi di berbagai saham teknologi murah karena mengaku tak kenal bisnisnya. “Risiko datang ketika Anda tidak tahu apa yang Anda lakukan,” tuturnya.
Karena itu, Buffett juga menyarankan untuk memastikan kekuatan manajemen perusahaan itu. Menurut buku ‘The Warren Buffett Way', ia punya tiga pertanyaan menyangkut manajemen sebuah perusahaan. Apakah mereka rasional? Apakah mereka mengakui kesalahan? Apakah mereka bisa menahan tuntutan institusi? Buffett tak suka manajemen yang hanya mengikuti arus dan mengkopi kompetitor.
2. Beli perusahaan yang menguntungkan
Buffett lebih suka berinvestasi pada perusahaan yang membukukan keuntungan dengan konsisten. Artinya, dalam jangka panjang misalnya 10 tahun, perusahaan itu konsisten meraup keuntungan.
Ia pun mengukur tingkat keuntungan perusahaan misalnya dengan melihat return on equity (ROE), return on invested capital (ROIC), dan margin laba perusahaan, lalu membandingkannya dengan perusahaan kompetitor atau industri.
Tapi hati-hati, kadang perusahaan dengan ROE tinggi memiliki utang yang besar pula. Buffett sangat menghindari perusahaan macam ini. Ia pernah bilang, “Jika Anda berada di kapal yang bocor kronis, energi untuk mengganti kapal bakal lebih produktif ketimbang energi untuk menambal kebocoran.”
Catatan:
ROE = laba bersih/ekuitas
Margin laba = laba bersih/penjualan bersih
ROIC = total kewajiban/ekuitas
Margin laba = laba bersih/penjualan bersih
ROIC = total kewajiban/ekuitas
3. Beli saham bagus di harga murah
Harga adalah apa yang Anda bayarkan, nilai adalah apa yang Anda dapatkan.
Jadi, belilah selalu saham yang harganya lebih murah daripada nilai sebenarnya. Ini prinsip utama Buffett yang ia pelajari dari guru favoritnya, Benjamin Graham. Caranya adalah cermat memperhatikan fluktuasi pasar dan memanfaatkannya. Ketika pasar serakah, Buffett cenderung menahan diri. Tapi sebaliknya, begitu pasar takut, ia mulai menebar jala berburu saham bagus tapi murah. Strategi kontrarian ini mudah diucapkan tapi pada kenyataannya sulit diterapkan. Sebab, lazim terjadi emosi dan kepanikan akan menyergap investor di tengah situasi buruk.
4.Berinvestasi jangka panjang
"Belilah hanya sesuatu yang Anda akan benar-benar senang memegangnya jika pasar tutup selama 10 tahun.
Ketika membeli sebuah saham, Buffett berpatokan akan menyimpannya dalam jangka panjang bahkan seumur hidupnya. Ia menyimpan sejumlah saham yang tak pernah ia jual sampai sekarang seperti Coca-Cola, GEICO, dan Washington Post.
5. Economic moat
Buffett menemukan istilah baru ini, yang secara harafiah berarti parit perlindungan ekonomi. Tapi yang dimaksud Buffett adalah perusahaan yang punya keunggulan kompetitif. Perusahaan bertipe economic moat dapat melindungi bisnisnya dari kompetitor karena ia punya kelebihan tersendiri.
Kelebihan ini bisa berupa merek yang kuat, paten, atau posisi geografis. Memakai prinsip ini, Buffett membeli McDonalds, Coca Cola, dan P&G.
Kamis, 30 Agustus 2012
Perjalanan Hidup Waren Buffett
30 Agustus 1930
Warren Buffett lahir
Warren Buffett lahir di Omaha, Nebraska, dari pasangan Howard dan Leila. Howard anggota parlemen AS dari Partai Republik dan memiliki perusahaan broker saham. Warren anak kedua dari tiga bersaudara.
17 Oktober 1941
Berkunjung ke Bursa New York di usia 10 tahun
Dalam perjalanan bisnis ke New York City, Howard mengajak puteranya yang baru berusia 10 tahun berkunjung ke New York Stock Exchange. Ia kelak mengatakan, kunjungan ini mengawali ketertarikannya di dunia bisnis.
Kemudian, pada usia 11 tahun, ia membeli enam saham Cities Service Preferred, tiga untuk dirinya, dan tiga lagi ia berikan ke kakaknya.
1947
Jadi loper koran
Ia menjadi loper koran dan berhasil menabung US$ 5.000 dari upahnya. Ayahnya memaksa Buffett kuliah, meski ia enggan. Namun di tahun itu, ia akhirnya terdaftar di Wharton School of Finance and Commerce, Pennsylvania. Buffett tidak menyukainya, sebab ia merasa tahu lebih banyak daripada guru-gurunya. Uang itu ia pakai untuk membeli lahan pertanian yang kemudian disewakan kepada petani. Inilah penghasilan tetap pertama Buffett remaja.
1950
Buffett kuliah
Buffett melamar masuk Harvard Business School namun ditolak. Lalu ia mendaftar ke Columbia setelah tahu bahwa idolanya, Ben Graham and David Dodd, adalah professor di sana.
13 Juni 1951
Jadi dosen
Buffett mengambil kursus public speaking Dale Carnegie. Lalu ia mulai mengajar kelas malam di University of Nebraska untuk mata kuliah "Prinsip Investasi'. Murid-muridnya berusia dua kali lipat usianya yang waktu itu baru 21 tahun.
April 1952
Menikah
Buffett dan Susie menikah. Mereka menyewa apartemen seharga US$ 65 sebulan. Di sana, anak pertama mereka yang juga diberi nama Susie lahir.
1954
Bekerja pada Ben Graham
Ben Graham menelpon Buffett dan menawarinya pekerjaan. Gaji pertama Buffett US$ 12.000 per tahun.
1956
Memulai usaha kemitraan sendiri
Graham pensiun dan menutup usaha kemitraannya. Sejak meninggalkan bangku kuliah enam tahun lalu, tabungan Buffett tumbuh dari US$ 9.800 menjadi US$$ 140.000. Lantas ia kembali ke Omaha, mendirikan usaha kemitraannya sendiri untuk mengelola dana investor. Tujuh anggota keluarga dan teman menjadi peserta dan mempercayakan dana US$ 105.000. Buffett sendiri hanya menginvestasikan US$ 100. Ia menjalankan usaha ini dari kamar tidurnya. Namun, antara tahun 1956-1969 kenaikan investasinya per tahun rata-rata lebih dari 30%. Padahal di masa ini, kenaikan 75-11% sudah tergolong sangat bagus. Buffett makin populer.
1957
Mengembangkan usaha kemitraan
Buffett menambah dua lagi kemitraan dalam pengelolaannya. Ia kini menjalankan 5 kemitraan dari rumah.
1961
Satu juta dollar pertama
Buffett menjalankan 7 kemitraan, di antaranya Buffett Associates, Buffett Fund, Dacee, Emdee, Glenoff, Mo-Buff, dan Underwood. Di bulan April, ia meraup 1 juta dollar untuk pertama kali. Dana itu ia gunakan untuk berinvestasi di Dempster Mill Manufacturing.
1962
Menemukan Berkshire Hathaway
Buffett Partnership yang dulu mulai dengan dana US$ 105.000, kini sudah bernilai US$ 7,2 million. Buffett dan Susie secara pribadi memiliki aset lebih dari US$ 1 juta. Buffett menggabungkan semua kemitraannya menjadi Buffett Partnerships Ltd. Operasionalnya dipindah ke Kiewit Plaza, yang kini menjadi kantor pusat Berkshire Hathaway. Di tahun ini, ia juga menemukan perusahaan manufaktur tekstil Berkshire Hathaway yang dijual dengan harga US$ 7,60 per saham. Buffett mulai membeli saham tersebut.
1963
Menjadi pemegang saham terbesar Berkshire
Buffett menjual Dempster sehingga membukukan untung bersih US$ 2,3 juta. Buffett partnerships menjadi pemegang saham terbesar Berkshire Hathaway.
1964
Skandal American Express
American Express terseret skandal penipuan sehingga sahamnya anjlok. Buffett tahu bahwa saham American Express sudah jatuh ke US$ 35. Saat semua orang panik, Buffett mulai membeli saham itu.
1965
Howard Buffett tutup usia
Sang ayah, Howard, meninggal dunia.Buffett mulai membeli saham Walt Disney Co. setelah bertemu dengan Walt Disney. Buffett mengatur kudeta bisnis untuk menguasai Berkshire Hathaway. Ia lalu memasang Ken Chace untuk mengelola perusahaan itu.
1966
Buffett Partnership tumbuh pesat
Buffett Partnership kini bernilai US$ 44 juta, sedang kekayaan Buffett kini senilai US$ 6,8 juta. Dana kemitraan itu sudah naik 1.156% dibandingkan indeks Dow yang naik 122%.
1967
Untung besar dari saham Amex
Berkshire membagi dividen pertamanya senilai 10 sen. Saham American Express menembus US$ 180 per saham. Alhasil, kemitraan Buffett untung US$ 20 juta. Dana kemitraan itu mencapai US$ 65 juta dan nilai kekayaan bersih Buffett US$ 10 juta. Di tahun ini, Buffett memulai bisnis asuransi dengan membeli asuransi National Indemnity senilai US$ 8,6 juta.
1968
Masa keemasan Buffett Partnership
Buffett Partnership meraup lebih dari US$ 40 juta, sehingga total nilainya mencapai US$ 104 juta. Ini merupakan tahun tersuksesnya.
1969
Menutup Buffett Partnership
Buffett menutup kemitraannya dan melikuidasi aset-asetnya. Namun salah satu yang ia pertahankan adalah Berkshire Hathaway. Saham pribadi Buffett di sana senilai US$ 25 juta.
1970
Memimpin Berkshire Hathaway
Buffett Partnership resmi ditutup. Buffett kini mengantongi 29% saham beredar Berkshire Hathaway. Ia mengangkat dirinya sebagai Chairman dan mulai menulis surat tahunan kepada investornya.
1971
Membeli See's Candies
Buffett menanamkan US$ 25 juta di perusahaan permen See's Candies. Ini menjadi investasi besar pertamanya.
1972
Investasi bisnis asuransi tersendat
Bisnis asuransi Berkshire punya dana menganggur US$ 100 juta. Hanya US$ 17 juta yang diinvestasikan lagi pada obligasi karena waktu itu Buffet tak bisa menemukan saham murah.
1973
Memborong saham Washington Post
Buffett membeli 18.600 saham Washington Post senilai US$ 27 per saham. Ketika saham itu turun ke US$ 23, ia membeli 40.000 saham lagi. Pada Oktober 1973, Berkshire menjadi pemegang saham eksternal terbesar surat kabar itu.
1974
Bursa AS jatuh, saham Berkshire tergerus
Bursa AS jatuh. Harga saham Berkshire di awal tahun anjlok separuhnya, dari US$ 80 ke US$ 40.
1975
Bergabung dengan Charlie Munger
SEC menginterogasi Buffett dengan tuduhan memanipulasi harga saham Wesco, namun tak ada hasilnya. Buffett menggabungkan Berkshire dengan Diversified, perusahaan yang dikontrol Charlie Munger. Munger memperoleh 2% saham Berkshire dan menjadi vice chairman Berkshire sampai kini.
1976
Mengincar GEICO
Berkshire membeli saham GEICO ketika harganya hanya sekitar US$ 2. Ini merupakan pembelian perdana yang mengawali serangkaian pembelian selanjutnya, sampai akhirnya tahun 1994 Berkshire menguasai GEICO seluruhnya.
1977
Saham Berkshire menanjak
Saham Berkshire Hathaway menembus US$ 132 dan kekayaan bersih Buffett US$ 70 juta. Namun Susie meninggalkan Buffett meski keduanya tidak resmi bercerai.
1979
Saham Berkshire mencapai US$ 290 per saham.
Saham Berkshire mencapai US$ 290 per saham. Kekayaan pribadi Buffett sekitar US$ 140 juta, namun ia hidup hanya dengan gaji US$ 50.000 per tahun. Berkshire mulai mengakuisisi saham ABC.
1983
Masuk daftar orang kaya dunia
Investasi Berkshire bernilai total US$ 1,3 miliar. Tahun itu, harga sahamnya mulai diperdagangkan pada US$ 775 dan di akhir tahun melonjak ke US$ 1.310. Kekayaan Buffett US$ 620 juta. Ia pun masuk dalam daftar orang terkaya dunia versi majalah Forbes untuk pertama kalinya. Di tahun ini, ia mengakuisisi Nebraska Furniture seharga US$ 60 juta. Ini merupakan salah satu investasi terbaiknya.
1985
Menutup usaha tekstil Berkshire
Buffett akhirnya menutup pabrik tekstil Berkshire setelah bertahun-tahun mempertahankannya. Saham Berkshire di harga US$ 2.600.
19 Oktober 1987
Black Monday, saham Berkshire ikut jeblok
Bursa AS kolaps di hari yang dikenal dengan nama Black Monday. Seminggu sebelumnya, Berkshire masih berada di level US$ 4.230 per saham. Tapi di tanggal 19 Oktober, harga langsung jeblok ke US$ 3.170. Di hari ini, Buffett pribadi merugi US$ 342 juta.
1988
Masuk ke Coca Cola
Buffett mulai membeli saham Coca-Cola. Ia memborong 7% saham perusahaan senilai US$ 1,02 miliar.
1989
Saham Berkshire melesat hampir dua kali lipat
Berkshire naik dari US$ 4.800 per saham ke atas US$ 8.000. Warren kini memiliki kekayaan US$ 3,8 miliar.
1990
Membeli bank Wells Fargo
Buffett membeli 10% saham bank Wells Fargo. Buffett tertarik melihat Chairman Wells Fargo Carl Reichardt memangkas biaya dengan menjual pesawat jetnya.
29 Mei 1990
Menerbitkan saham Berkshire class A
Berkshire Hathaway mulai menawarkan saham Berkshire class A. Harganya ditutup pada US$ 7.175 per saham. Nama Warren Buffett semakin populer sebagai investor sekaligus miliuner.
1992
Menembus US$ 10.000
Berkshire kini sudah menjadi saham seharga US$ 10.000. Harga sahamnya terus mendaki.
1993
Menjadi orang terkaya se-Amerika
Majalah Forbes menobatkannya sebagai orang terkaya di Amerika Serikat. Setahun setelahnya, posisi itu digeser oleh Bill Gates.
1996
Menerbitkan saham Baby Berkshire
Berkshire menerbitkan saham kelas B atau Baby Berkshire di harga US$ 1.100. Saham kelas B ini jauh lebih murah ketimbang saham kelas A yang nilainya mencapai US$ 36.000 karena Berkshire saham sekali tak pernah melakukan pemecahan saham.
2000
Bubble dotcom, Buffett tak bergeming
Di saat pelaku pasar heboh dengan gelembung saham dotcom, Berkshire malah membeli perusahaan cat Benjamin Moore Paint. Dalam suratnya kepada pemegang saham, Buffett menjelaskan, "Kami telah memasuki abad ke-21 dengan berinvestasi pada industri-industri mutakhir seperti bata, karpet, pemanas, dan cat. Cobalah mengontrol kesenanganmu.
2001
Tragedi 9/11 memukul bisnis asuransi Berkshire
Untuk pertama kalinya di bawah Buffett, nilai buku Berkshire negatif. Tragedi 9/11 menggerus bisnis asuransinya. Namun, kinerja Berkshire masih melampaui S&P 500. Kepada pemegang saham Berkshire, Buffett berkata, "Istri saya dan saya belum pernah menjual satu saham pun, dan kami juga belum pernah berniat menjualnya."
2003
Lelang untuk makan bareng Buffett
Ebay menggelar lelang amal bagi siapa saja yang ingin makan bersama Warren Buffett. Penawar tertinggi yang memenangkan lelang itu membayar senilai US$ 250.100.
2006
Mulai mencari kandidat penerus
Dalam surat tahunannya kepada pemegang saham, Warren Buffett mengumumkan ia sedang mencari kandidat untuk mengambil alih bisnisnya. Ia juga mengungkapkan akan mendonasikan 85% kekayaannya untuk amal.
2008
AS krisis, Buffet malah beli Goldman Sachs
Buffett mengunjungi Jerman, Swiss, Spanyol, dan Italia. Perjalanan ini sebagian besar bermasuk mengenalkan Buffett pada pelaku bisnis Eropa yang ingin menjual bisnisnya ke Berkshire. Di tengah panasnya krisis subprime, Buffett membeli saham Goldman Sachs. Ia juga menulis opini kontroversial di New York Times berjudul "Buy American. I am,". Intinya adalah menyarankan Obama menaikkan pajak untuk orang kaya. Usul Buffett ini kemudian menjadi beleid bernama Buffett Rule yang hingga kini masih dibahas di parlemen.
2009
Pasar crash, Berkshire ikut terpukul
Pada Maret, pasar jatuh ke titik terendahnya. Saham Berkshire pun turun 50%. Berkshire juga merugi US$ 5 miliar akibat investasi derivatif.
2010
Stock split Berkshire yang pertama
Berkshire membeli sisa saham Burlington Northern Santa Fe Corp. senilai US$ 26 miliar yang menjadi pembelian terbesarnya. Sebagai bagian dari pembelian, Berkshire melakukan stock split untuk saham Berkshire Class B, stock split pertama dalam sejarah perusahaan.
2011
Membeli saham-saham teknologi
Pasar kaget. Buffett yang selama ini dikenal antipati pada saham-saham internet dan teknologi, akhirnya melanggar aturannya sendiri. Ia membeli raksasa komputer IBM. Namun Buffett mengaku pembelian itu semata-mata karena ia merasa harga saham IBM sedang murah. "Cocok dengan semua prinsip saya," ujarnya. Tak lama berselang, Buffett membeli saham Intel.
Langganan:
Komentar (Atom)
